105 Tahun Muhammadiyah Merekat Kebersamaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 10 November 2017 23:26 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Muhammadiyah dalam rentang usianya yang sudah lebih dari satu abad telah melalui dan turut serta merasakan dinamika kehidupan berbangsa. Muhammadiyah juga turut berperan di dalam membangun dan mengisi ruang kehidupan kebangsaan dalam bingkai kebersamaan yang berlandaskan pada prinsip toleransi dan kebhinekaan.

Selain itu, Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Agung Danarto mengatakan bahwa tidak mudah merajut dan merekatkan bangunan kebangsaan kita, mengingat bangsa ini adalah bangsa yang sangat besar. “Besar tidak hanya ukuran luas kewilayahannya, akan tetapi besar karena luasnya keragamaan dan latarbelakang sosialnya,”ujar Agung ketika ditemui pada Kamis (9/11) di Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta.

Dilanjutkan Agung, bangsa ini adalah bangsa yang majemuk yang terdiri dari berbagai latar belakang suku, ras, bahasa, kultur dan agama, tidak ada bangsa di dunia ini yang se-majemuk seperti yang ada di Indonesia. “Oleh karena itu keragamaan, kemajemukan atau dalam bahasa falsafah bernegara kita disebut dengan kebhinekaan ini harus kita rawat dan kita rekatkan dalam rangka untuk mewujudkan cita-cita nasional secara bersama sama,” ungkap Agung.

Bertepatan dengan Milad Muhammadiyah yang ke 105 tahun dalam hitungan masehi yang jatuh pada tanggal 18 November 2017, PP Muhammadiyah memilih tema pada milad kali ini yaitu Muhammadiyah Merekat Kebersamaan.

Dijelaskan Agung, tema dari merekatkan kebersamaan ini memiliki makna bahwa Indonesia yang lahir dari hasil kesepakatan para pendahulu harus terus dipelihara agar bisa menjadi negara yang bersatu.

“Harus ada upaya aktif dari seluruh masyarakat untuk mewujudkan Indonesia bersatu, bagaimana agar upaya tersebut bukan hanyaberujung padaslogan, melainkan juga realitas,”tegas Agung.

Sebagai salah satu elemen masyarakat, Muhmmadiyah mencoba membina rekatan yang mana saat ini sedang memudar di masyarakat karena konflik sosial.

Terlepas dari hal itu, dalam acara resepsi milad Muhammadiyah yang akan digelar pada Jumat (17/11) malam ini akan dihelat di Pagelaran Kraton Yogyakarta.

Agung menjelaskan bahwa Muhammadiyah dan Kraton Yogyakarta memiliki sejarah yang panjang.

“Muhammadiyah itu sejak awal bisa dikatakan selalu disupport oleh Kraton, itu nampak ketika KH Ahmad Dahlan dikirim ke Timur Tengah,” terang Agung.

Membahas mengenai konsep acara, Agung menjelaskan bahwa dalam acara tersebut nantinya anggota PP Muhammadiyah akan mengenakan pakaian adat Jawa, sedangkan perwakilan Wilayah Muhammadiyah dari berbagai daerah akan memakai baju adat daerahnya masing-masing.

“Konsep adat seperti ini tentu menjadi salah satu upaya perekatan yang menjadi satu kesatuan yang harmoni,” ujar Agung.

PP Muhammadiyah dalam hal ini juga mengundang berbagai macam elemen, mulai dari tokoh-tokoh agama, tokoh bangsa, tokoh politik, dan khususnya warga Persyarikatan Muhammadiyah.

Selain itu, PP Muhammadiyah juga akan mengadakan Muhammadiyah Award, yang mana penghargaan tersebut akan diberikan kepada orang-orang yang memiliki jasa besar bagi persyarikatan. Diantaranya yakni Sri Sultan HB X, Hj. Rumani, salah satu warga biasa yang mempunyai dedikasi dan kedermawanan dalam membangun Rumah Sakit Muhammadiyah, dan yang terakhir penghargaan akan diberikan kepada Mitsuo Nakamura peneliti asal Jepang yang telah banyak meneliti perkembangan Islam, khususnya Muhammadiyah. (adam)

Shared:
Shared:
1