Masyarakat Pulau Timor Alami Kekeringan, Muhammadiyah Galakkan Program Tutup Bumi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 07 November 2017 21:26 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, KUPANG – Guna membantu masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama di Pulau Timor, yang saat ini tengah mengalami persoalan kekeringan yang menyulitkan masyarakat, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melakukan sebuah program strategis di provinsi yang dikenal sebagai penghasil kayu cendana tersebut.

Program yang dilakukan bukanlah memberi air bersih dalam truk tangki, melainkan melalui sebuah program jangka menengah terkait optimalisasi lahan di Pulau Timor, yang dilakukan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah.

Kekeringan yang terjadi disebabkan oleh intensitas curah hujan yang relatif kecil serta kondisi alam yang tak memadai membuat kekeringan di Pulau Timor pun tak dapat disangkal.

Program yang dicanangkan oleh MPM PP Muhammadiyah yaitu Gerakan Tutup Bumi. Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin mengatakan, program tersebut dilakukan di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi NTT.

Yamin menjelaskan gerakan tutup bumi yang dilakukan yaitu penghijauan dan reboisasi. “Gerakan ini dipilih menjadi strategi jangka menengah dalam menyelesaikan persoalan kekeringan, mengingat salah satu penyebab minimnya air tanah adalah karena tak banyak vegetasi di kawasan itu,” ujar Yamin pada Senin (6/11).

Dilanjutkan Yamin, program reboisasi tersebut dilakukan dengan menanam beberapa jenis tanaman seperti pohon trembesi, pohon beringin, mahoni dan pohon mangga.

"Tanaman itu dipilih karena dinilai optimal dalam menyediakan air tanah yang tidak terlalu dalam," terang Yamin.

Tak hanya itu program pemberdayaan masyarakat di NTT yang dilakukan MPM PP Muhammadiyah lebih masif. “Tak hanya mengembangkan program pemberdayaan yang meliputi gerakan tutup bumi dengan menanam pohon, namun juga dengan pengeboran sumur, pembuatan penampungan air hujan, pertanian lahan kering serta memberi pendidikan melalui pendirian sekolah dasar,” pungkas Yamin.

Sekedar diketahui, saat ini, sumur air tanah di kawasan yang terletak sekitar 200 kilo meter (km) ke arah timur dari Kota Kupang itu harus melalui proses pengeboran hingga kedalaman 200 meter untuk mendapatkan air.

Sehingga saat kemarau, sumur dalam itupun tak berair. Masyarakat di daerah tersebut yang mayoritas merupakan masyarakat asli Tmor pun tak jarang harus mencari air bersih di sumber mata air yang jaraknya sekitar tujuh kilometer, tanpa kendaraan apapun. (adam)

Shared:
Shared:
1