Etos Belajar

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 15 Oktober 2017 14:20 WIB

 

Oleh : Munawwar Khalil*

“Saya akan belajar sepanjang hayat, “ demikian ikrar KHA. Dahlan pada suatu hari. Dan nyatanya, sejarah hidup beliau adalah penuh dengan biografi intelektual. Sepanjang hidup KHA Dahlan terus kasmaran dengan belajar baik kepada ulama ternama maupun dengan membaca dan diskusi dengan para intelektual. Tak heran, puluhan kitab penting dan ratusan buku ia miliki secara pribadi  dan kitab-kitab itu dikajinya berulang-ulang.

Yunus Salam (1968:58-59) menyebutkan diantara buku dan kitab yang menjadi kegemaran serta mengilhami KHA Dahlan dalam hidup dan  perjuangannya adalah : kitab Tauhid dan Tafsir Juz Amma karya Syekh Muhammad Abduh, Dairatul Ma’arif karya Faid Wajdi, At-Tawassul  wal Washilah karya Ibnu Taimiyah, Al-Islam wan Nashraniyyah karya Syekh Muhammad Abduh, Izharul Haq karya Rahmatullah al-hindi, Tafsir Al-Manar karya Syekh Rasyid Ridha dan majalah al-Urwatul Wutsqa, Matan Al-Hikam li Ibn Athaillah, dan lain-lain. Selain gemar membaca kitab Kyai Dahlan juga intens bertukar pikiran dengan ulama-ulama ternama.

Jihad intelektual Kyai Dahlan diawali saat berusia 15 tahun berangkat  ke Mekkah. Tidak hanya beribadah haji, tapi bermukim di sana selama 5 tahun untuk misi thalab al-ilmi (menuntut ilmu). Ia belajar qiraat, tafsir, ilmu tauhid, fikih, tasawuf, ilmu falak dan bahasa Arab. Tak cukup dengan pengalaman tersebut, di usia 34 tahun (1904) Kyai Dahlan kembali melanjutkan rihlah intelektualnya di Mekkah selama 2 tahun. Ia berguru pada Kyai Ahmad Khatib al-Minangkabau dan sempat bertukar pikiran dengan Syekh Rasyid Ridha – cendekiawan muslim yang saat itu menyebarkan “virus” gagasan pembaharuan Islam. Tak sekadar setuju dengan gagasan Syekh Rasyid Ridha bahkan KHA Dahlan pun pulang ke tanah air membawa api pembaharuan Islamnya dengan mendirikan Muhammadiyah yang dikemudian hari menjadi wadah pelopor dan pendorong dinamika pembaharuan Islam di Indonesia.

Demikianlah etos belajar yang tinggi dipadukan dengan iman dan amal menjadikan KHA Dahlan tampil sebagai lokomotif pembaharuan Islam di Indonesia. Bagaimana kader Muhammadiyah mengambil ibrah dari biografi intelektual KHA Dahlan ini ?

Islam dan Ilmu

Al-Qur'an sebagai rujukan otoritas tertinggi dalam Islam menempatkan ilmu pengetahuan sejajar dengan iman. Maju mundurnya sebuah peradaban dalam perspektif ini akan sangat tergantung kepada berhasil atau gagalnya pemeluk beriman untuk mengintegrasikan antara iman dan ilmu pengetahuan. Iman sebagai fondasi spiritual dan ilmu sebagai senjatanya dalam menghadapi kehidupan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah mengangkat [posisi] orang-orang  beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS.al-Mujadalah: 11)

Ilmu merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya, termasuk malaikat. Allah SWT sangat mendorong agar manusia mencari, menguasai, mengajaran dan mengamalkan ilmu.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" (QS Al-Baqarah/2:31)

Karena itu, selama masih hidup, kader Muhammadiyah dituntut untuk terus menimba ilmu mengembangkan pengetahuannya, sebab bila tidak maka akan tertinggal dan ditinggalkan.  Adalah benar ber-Muhammadiyah itu berarti beramal. Tapi dibalik amal yang dilakukan terdapat ilmu yang mengiringinya. Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, "Al 'ilmu qoblal qouli wal 'amali (Ada ilmu sebelum berkata dan berbuat)". Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta'ala :

فَاعْلَمْأَنَّهُلَاإِلَهَإِلَّااللَّهُوَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ

"Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu" (QS. Muhammad/47: 19).

Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Nabi SAW mengajarkan kita sebuah doa yang dikutip dari QS. Thaha/20:114: “.... Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” Fakta sejarah membuktikan, karena karakter Nabi SAW yang fathonah ini adalah menjadikan al-Qur’an sebagai kitab ilmu, maka seluruh kariernya yang relatif singkat itu adalah untuk menggumulkan gagasan Kitab Suci ini ke dalam darah dan daging sejarah dengan penuh kesungguhan, dan dia berjaya. Arabia sebagai kawasan yang sebelumnya terisolasi dan tidak diperhitungkan, baik oleh Romawi maupun Persia, berubah menjadi pusat perhatian dunia yang penuh wibawa. Bagaimana umat Islam, khususnya kader Muhammadiyah menjadikan sejarah hidup Nabi ini sebagai pembelajaran ?

Mengaktifkan Majlis Ilmu

Jika merunut pada realitas hari ini maka dapat disaksikan bahwa umat islam masih terbelakang berkenaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika di Barat sudah mendebatkan isu rekayasa pangan hingga genetika bahkan prospek investasi properti di bulan, umat Islam masih banyak yang terlena mengutatkan diri pada isu khilafiyah, khalifah, mazhab dan fikih. Berada pada isu-isu ini bahkan banyak mengarah pada konflik sektarian seperti yang terjadi di Yaman, Suriah dan Irak. Menjamurlah kelompok-kelompok militan keagamaan..... minus kelompok keilmuan (?!). Tersirat pertanyaan : apakah geneologi umat ini tidak memiliki etos belajar dalam ajaran agamanya hingga menjadi komunitas yang mandul dan stagnan dalam isu keilmuan ? Ataukah etos itu ada tapi umatnyalah yang berpaling darinya?

Terlena "bersahabat" dengan ketertinggalan dan kebodohan adalah pertanda bahwa umat Islam telah kehilangan semangat elan vital (semangat hidup) sebagai pra-syarat untuk masuk kedalam perlombaan menegakkan kebajikan (fastabiqul khairat)? (QS. al-Baqarah: 148 dan al-Maidah: 48). Bagaimana mungkin suatu umat dapat menang dalam perlombaan, jika syarat obyektif berupa ilmu dan teknologi tidak dikuasai ? Ilmu dan teknologi di tangan pemeluk beriman yang cerdas, secara teoretik,  pasti  akan  membuahkan  perdamaian,  keadilan,  dan  keamanan,  sebab tanggungjawabnya tidak berhenti di sini saja, tetapi akan berlanjut sampai di balik makam (Syafii Maarif: 2006). Umat beriman yang cerdas dan punya tradisi etos belajar yang tinggi inilah yang harus lahir di tengah-tengah kita agar menjadi layak untuk turut dalam perlombaan, demi menegakkan kebajikan.

Oleh karena itu, tugas kader Muhammadiyah saat ini adalah kembali menghidupkan majlis keilmuan. Kasmaran dengan segala bidang ilmu. Agar umat ini kembali memimpin peradaban yang gemilang di bawah ridha dan maghfirah ilahi. Fa’tabiru ya ulil albab!

 

*) Wakil Ketua MPK PP Muhammadiyah

 

Dinukil dari buku: Siapakah Kader Muhammadiyah Itu? : Materi Kultum Peneguh Jatidiri Kader. MPK PP Muhammadiyah. (2017)

Shared:
Shared:
1