Akses Pendidikan Kebencanaan Bagi SLB Dipandang Minim

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 14 Oktober 2017 16:43 WIB

MUHAMMDIYAH.OR.ID, BANTUL --  Penyandang disabilitas seringkali menjadi kelompok yang paling beresiko terkena dampak bencana, karena masih minimnya tindakan yang sesuai dan kurang aksesnya pendidikan kebencanaan.

Menyiasati hal itu, Forum Penguatan Hak Penyandang Disabilitas (FPHPD) yang terdiri dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Center for Impoving Qualified Activity in Live of People with Disabilities (CIQAL), dan Independent Legal Aid Institute (ILAI) mengadakan sosialisasi Uji Coba Panduan Pembelajaran Pendidikan Pengurangan Resiko Bencana (PRB), yang bertempat di SLB Negeri 1 Bantul, pada Sabtu (14/10).  

Arni Surwanti, Koordinator FPHPD, mengatakan Pendidikan PRB ini didesagin untuk diajarkan dalam kegiatan ekstra kulikuler Pramuka.

“Kegiatan Pramuka dipilih karena dinilai lebih fleksibel dalam merancang proses pembelajaran dan karakater pendidikan PRB sesuai dengan karakter pramuka yakni mendorong kemandirian dan memiliki kecakapan hidup,” ungkap Arni.

Arni menilai, pada umumnya perhatian pihak-pihak terkait terhadap kondisi dan kebutuhan khusus penyadang disabilitas dalam rangka penyelamatan dirinya masih kurang dan belum sesuai.

“Karena itu, semua pemangku kepentingan terutama pemerintah harus memastikan semua penyandang disabilitas mendapatkan pendidikan PRB,” ujarnya.

“Dalam penyelenggaraan  pendidikan PRB, harus dipastikan penyandang disabilitas dapat memahami dan mempunyai kemampuan menyelematkan ketika terjadi bencana”, imbuh Arni.

Disamping itu, pendidikan PRB ini memerlukan praktek dan simulasi yang dapat dilakukan dalam kegiatan pramuka. Misi dari pelaksanaan sosialisasi ini yaitu, selain menyiapkan materi yang berupa Buku Panduan Pembelajaran Pendidikan PRB dan metode pembelajaran, yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas yang bersekolah di SLB dan sekolah inklusi.

Arni berharap, kedepannya semua SLB dan sekolah inklusi di Indonesia bisa mengajarakan pendidikan PRB dalam kegiatan pramuka. Dengan demikian semua penyandang disabilitas mempunyai kemampuan menyelamatkan diri ketika terjadi bencana.

Selaras dengan pemaparan Arni, Hanafi Effendi selaku Kepala Sekolah SLB Negeri 1 Bantul menambahkan, bahwa perlunya kelibatan lingkungan sosial dalam rangka pengurangan resiko bencana.

“Oleh karena itu, saya merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan beberapa pihak ini, yang telah menjadikan sekolah kami sebagai yang tepat untuk uji coba bagi penyandang disabilitas,” imbuh Hanafi.

Sementara itu, M. Nurul Yamin Ketua Majelis Pemberdayaan MasyarakatPP Muhammadiyah, menyiasati hal ini, salah satu langkah yang perlu dilakukan yaitu menyikapi atau melakukan antisipasi yang bisa mengurangi resiko bencana, baik kerugian dalam harta benda dan nyawa.

Yamin berharap, bisa menjalakan kegiatan ini secara konsisten melalui pemberdayaan, pendekataan dan sosialisasi.

“Hal ini menjadi tugas kita bersama tanpa ada perbedaan, semoga kedepannya buku tersebut bisa segera diterbitkan, karena ini merupakan bagian dari membangun kemandirian,”tutup Yamin. (tuti)

 

Shared:
Shared:
1