Tauhid Sebagai Dasar Keshalehan Kader dalam Kehidupan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 09 Oktober 2017 13:35 WIB

Oleh: Ari Anshori*

Dalam berislam keyakinan seseorang harus utuh dan penuh (kaffah), jika telah utuh dan penuh, maka kemudian dunia pun tidak tampak semrawut. Orang tidak mudah terkecoh oleh hal-hal yang menjebak secara aqidah. Jadi, seseorang dalam melihat dunia ini akan menjadi mudah, perbedaan yang haq dan yang bathil akan mudah terlihat dengan jelas, walaupun dibungkus dengan apapun, seseorang yang telah bertauhid akan kuat persepsinya dan kemudian dapat menetrasi. Ia bisa menembus bungkus-bungkus yang kadang-kadang mengelabui atau seolah-olah dibuat mengelabui hakikat yang tidak benar.

Aqidah adalah pondasi untuk mendirikan bangunan kehidupan, semakin tinggi bangunan yang akan dibuat maka harus semakin kokoh pondasi yang mendasarinya. Jika pondasinya lemah maka bangunan itu akan mudah roboh tertiup angin atau terhempas badai. Jika seseorang belajar ajaran Islam ke dalam sistematika Aqidah, Ibadah, Akhlak dan Muamalah, atau Aqidah, Syariat dan Ahlak, atau Iman, Islam dan Ihsan. Maka ketiga aspek itu tidak dapat dipisahkan sama sekali, sehingga dapat disimpulkan bahwa satu sama lain saling terikat. Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, maka akan terdorong melaksanakan ibadah secara tertib, memiliki ahlak yang mulia dan bermuamalat dengan baik. itulah sebabnya Rasulullah SAW, selama 13 tahun periode Makkah memusatkan dakwahnya untuk membangun aqidah yang benar dan kokoh. Sehingga bangunan Islam dengan mudah dapat berdiri dan akan terus bertahan hingga hari kiamat.

Esensi Aqidah dan Iman dalam Islam adalah Tauhid (mengesakan Allah SWT). Seperti tercermin dalam ayat berikut ini:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".(Qur’an surah Luqman, ayat: 13)

Tauhid merupakan landasan utama dan pertama keyakinan Islam dan implementasi ajaran-ajarannya. Tanpa tauhid tidak ada iman, tidak ada aqidah dan tidak ada Islam dalam arti yang sebenarnya. Akidah dalam Islam berpangkal pada keyakinan tauhid, yaitu keyakinan tentang wujud Allah, tidak ada yang meyekutukannya baik dalam zat, sifat maupun perbuatan-Nya.

Tauhid merupakan salah satu hal terpenting yang harus dipahami, dimiliki dan dipegang teguh oleh setiap kader Muhammadiyah, karena dengan tauhid seseorang dapat mengerti apa arti dari kehidupan yang diajalani. Tauhid mempunyai peran besar terhadap hidup manusia, karena dengan tauhid-lah manusia dapat memahami arti dan tujuan hidup mereka. Marilah coba ditengok di dalam kehidupan di zaman yang katanya modern ini, banyak manusia yang hidup tanpa tujuan yang jelas, mereka bekerja siang malam banting tulang hanya untuk mendapatkan harta yang banyak, dengan harta itulah mereka berusaha memuaskan hawa nafsunya yang tak kunjung puas dengan apa yang telah mereka lakukan, padahal Allah telah berfirman dalam ayat-Nya:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

”Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada KU”(Al-Qur’an surah az-Zariyat: ayat 56)

Tauhid sangatlah penting bagi kehidupan manusia, baik secara individu maupun bermasyarakat. Orang yang benar-benar memahami makna tauhid pastilah memiliki sifat yang baik. Hal ini disebabkan karena dalam tauhid memiliki turunan yang dikenal dengan tiga prinsip dasar yaitu Islam, Iman, Ihsan dan ditambah dengan ketaqwaan. Islam, iman dan ihsan hendaknya diaplikasikan secara komperhensif tanpa mengabaikan satu sama lain dalam kehidupan manusia. Adanya ihsan yang berarti ia beribadah seolah-olah Allah melihatnya, dan berbuat kebaikan kepada sesama makhluk atas dasar dia menempatkan rasa takut kepada Allah setara dengan rasa cinta kepada-Nya.

Dengan memiliki landasan tauhid yang kuat maka diharapkan akan munculnya generasi-tauhid yang memiliki ciri-ciri positif dalam melakukan aktivitas sosialnya, adapun ciri-ciri yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: (1) Memiliki komitmen utuh pada Tuhannya. Ia akan berusaha secara maksimal untuk menjalankan pesan dan perintah Allah sasuai dengan kadar kemampuannya; (2) Menolak pedoman hidup yang datang bukan dari Allah; (3) Bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas kehidupannya, adat istiadatnya, tradisi dan faham hidupnya. Bila dalam penilaiannya ternyata terdapat unsur unsur syirik, maka ia selalu bersedia untuk mengubah hal hal itu agar sesuai dengan pesan ilahi; (4) Tujuan hidupnya sangat jelas. Ibadahnya, kerja kerasnya, hidup dan matinya hanyalah untuk Allah semata; Dan yang terakhir (5) Memiliki visi yang jelas tentang kehidupan yang harus dibangunnya bersama sama manusia lain; suatu kehidupan yang harmonis antara manusia dengan Tuhannya, dengan lingkungan hidupnya, dengan sesama manusia dan dengan dirinya sendiri.

Akhlak baik atau moral yang tinggi sulit untuk dicapai dan dipertahankan tanpa kepercayaan atau keimanan. Karena kepercayaan atau keimanan itu merupakan keyakinan yang seyakin-yakinnya tanpa keraguan sehingga akan berpengaruh terhadap tingkah laku, sikap, dan pemikiran manusia. Penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan ajaran Islam kepada generasi penerus amat sangat penting dilakukan agar terciptanya generasi-generasi yang memiliki rasa keberagamaan yang telah terinternalisasi ke dalam dirinya.

Persyarikatan Muhammadiyah terus berupaya mencetak kader sebagai generasi penerus yang memiliki kompetensi paripurna dengan bekal pengetahuan keberagamaan, sehingga memunculkan karakter keislaman yang mumpuni. Muhammadiyah mewariskan nilai dan tradisi Muhammadiyah yang berbentuk revitalisasi ideologi yang bertautan dengan kesadaran tentang paham agama dan etos beragama dalam Muhammadiyah. Dalam tradisi dan semangat profetik pewarisan nilai ini senantiasa mengacu kepada wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub as. sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an Q.S Al-Baqarah ayat 132-133, dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub sama-sama berwasiat tentang hal-hal yang menitikberatkan pada internalisasi tauhid kepada generasi penerusnya.  

Kader-kader yang telah dibina melalui proses perkaderan diharapkan memiliki pribadi yang shaleh, alim, ihsan dan memiliki uswah hasanah dalam kehidupan. Kader dan anggota Muhammadiyah memiliki kekayaan ruhaniyah di atas rata-rata dari yang lain, karena dapat menangkap inti-sari ideologi Muhammadiyah, sehingga hadir, dapat lahir keshalehan individual sekaligus keshalehan sosial. Spiritualitas kader dengan landasan aqidah yang kuat selain menunjukkan kekayaan ruhani, bathin, dan kepribadian di samping itu menunjukkan sikap dinamis sehingga mampu menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana tugas utama manusia di muka bumi.

 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Qur’an, surah al-Baqarah, ayat: 30)

Dalam kaitannya ayat di atas, profil kader Muhammadiyah dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, dalam orientasinya sebagai kader yang ideal. Haruslah memiliki empat kompetensi yaitu; kompetensi keberagamaan; kompetensi akademis dan intelektual; kompetensi sosial kemanusiaan dan kepeloporan; dan kompetensi keorganisasian serta kepemimpinan.Demgan demikian kader harus memiliki nilai-nilai relegiusitas, intelektualitas dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan secara seimbang. Kader dituntut peka terhadap permasalahan sosial umat, yang dalam hal ini, dapat dicirikan dengan nilai-nilai sebagai berikut: (1) Keshalehan (perilaku yang baik) dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat luas; (2) Kepedulian sosial (keterpanggilan dalam meringankan beban hidup orang lain); (3) Suka beramal (gemar melaksanakan amal shaleh untuk kemaslahatan hidup); (4) Keteladanan (menjadi uswah hasanah (teladan yang baik) dalam seluruh hidup dan tindakan; (5) Tabligh (menyampaikan kebaikan kepada orang lain, komunikatif, dan terampil membangun jaringan); (6) Inovatif (menemukan hal-hal baru) dalam mengembangkan kemajuan organisasi; (7) Berpikiran maju dan membawa Muhammadiyah pada kemajuan di berbagai bidang yang menjadi misi dan usaha gerakan.

 

*) Ketua Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah periode 2015-2020/ Dosen UMS

Dikutip dari: Buku Siapakah Kader Muhammadiyah Itu?: Materi Kultum Peneguh Jati diri Kader. MPK PP Muhammadiyah. (2017)

Foto: Ilustrasi

 

Shared:
Shared:
1