Hari Tani Nasional: Pemuda Muhammadiyah Babel Minta Jokowi Perhatikan Nasib Petani Karet

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 26 September 2017 10:54 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANGKA BELITUNG - Memperingati hari Tani Nasional yang jatuh pada tanggal 24 September 2017, Pemuda Muhammadiyah Bangka Belitung (Babel) berharap kepada Presiden Jokowi untuk memperhatikan persoalan nasib petani di Indonesia terutama petani karet. 

Jafri, selaku  Ketua Asosiasi Petani Karet Babel dan juga Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Babel mengatakan ada beberapa persoalan yang harus dibenahi oleh Presiden Jokowi di sektor pertanian, pertama soal reforma agraria yaitu persoalan kepemilikan lahan saat ini masih dimonopoli oleh tuan tanah dan pemilik modal sektor perkebunan besar.

“Penguasaan lahan ini mengakibatkan para petani miskin atau buruh hidupnya tergantung kepada mereka sehingga mereka menjadi buruh dengan penghasilan yang sangat rendah. Seperti di pulau Jawa jumlah buruh tani cukup lumayan besar dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia” kata Jafri pada Selasa (26/9).

Kedua, ia menambahkan soal perhutanan sosial yang belum  tuntas seperti masih banyak lahan desa yang tidak dikuasai oleh masyarakat yang dimonopoli sektor perusahaan pertambangan dan perkebunan.

Ketiga, soal anjloknya harga komoditas pertanian seperti karet, lada, kelapa sawit, bawang, ubi, dan lain lain harganya masih rendah,  sehingga ini berpengaruh terhadap kesejahteraan petani. Hal ini juga tidak terlepas monopoli perdagangan yang bebas atau free market yang tidak dikontrol oleh pemerintah. 

“Misalnya di Bangka Belitung soal harga karet dan lada yang anjlok saat ini, sehingga membuat para petani miskin banting tulang dalam mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Kita sebagai petani  sangat resah dengan kondisi hari ini,” ungkap Jafri.

Jafri mengungkapkan bahwa petani tidak bisa berbuat banyak terhadap rendahnya harga karet dan lada, mereka sangat berharap dengan kebijakan strategis Gubernur Babel secara khusus dan Presiden secara umum untuk mengatasi dan mencari solusi terhadap anjloknya harga karet dan lada ini.

Harga karet berkisar 4000 rupiah/kg dan lada yang hanya berkisar Rp 68.000-72.000/kg cukup memprihatinkan. Maka Jafri mengajak para petani karet dan lada di Bangka Belitung dan Indonesia pada umumnya untuk bersama-sama membangun kekuatan organisasi petani.

“Supaya petani punya kekuatan yang kuat kedepan nya, agar bisa melakukan kontrol terhadap persoalan yang tidak berpihak kepada para petani,” serunya.

Kedepan, Jafri juga berharap kepada Gubernur dan Presiden agar ada langkah strategis yang bisa membantu para petani tersebut agar tidak susah secara ekonomi.  “Untuk itu kita meminta Presiden Jokowi untuk segera melaksanakan reforma agraria yang sebenarnya dan melaksanakan perhutanan sosial yang berpihak pada petani,” pungkas Jafri. (raipan)

Shared:
Shared:
1