Muhammadiyah Edukasi TB Anak Melalui Wayang

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 17 September 2017 15:37 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA - Muhammadiyah Against TB in Children [MATiC] sebuah program penanggulangan TB anak di Jakarta Timur yang baru berjalan sejak April 2017 lalu, membuat  sebuah pagelaran wayang sebagai upaya untuk mengedukasi anak-anak yang terjangkit TB.

Gelaran yang digagas bersama Jonshon & Jonshon ini dilaksanakan di Puskesmas Pulogadung pada Selasa (12/9). Turut hadir dalam acara tersebut Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur dan Lurah setempat.

Menurut Fahrul Rozi, Koordinator Finance Officer & Monitoring Evaluasi MATiC, tujuan dilaksanakannya kegiatan ini selain untuk membantu menemukan kasus agar bisa segera diobati, hiburan wayang juga penting sebagai upaya untuk mengedukasi agar TB mudah dipahami oleh masyarakat.

“Sehingga kedepannya tingginya kesadaran masyarakat akan ciri TB sehingga bisa langsung memeriksakan gejala tersebut agar sedini mungkin dicegah dan diobati menuju Indonesia bebas TB. Ini juga dapat menghibur anak-anak yang sedang menunggu tes Rontgent, tes mantoux maupun induksi sputum dimana metode ini bagian dari tes untuk menentukan TB anak atau bukan,” ujarOzi, sapaan akrab Fahrul Rozi.

Kegiatan serupa juga akan dilaksanakan di beberapa wilayah di Jakarta Timur pada tanggal 18, 20, 26 dan 29 September 2017. Sebelumnya MATiC juga menyelenggarakan pelatihan diagnosa TB Anak untuk 294 petugas puskesmas se-Jakarta Timur dan melakukan sosialisasi ke 246 Kader kesehatan dari 10 kecamatan yang ada di Jakarta Timur.

Sejak 19 Mei 2017 program MATiC membantu pelayanan mobile rongten secara gratis di 10 Puskesmas Kecamatan mulai Senin - Jum’at selama 1 tahun. Adapun perhari dibagi menjadi 2 Puskesmas, Senin Puskes Makasar-Kramat Jati, selasa Cakung-Pulogadung, Rabu Durensawit-Cipayung, Kamis Pasar Rebo-Ciracas dan Jum’at Jatinegara-Matraman.

“Sampai dengan akhir Agustus sudah ada 1547 anak umur 0-14 tahun yang di Rongent baik melalui investigasi kontak kader juga petugas KPLDH ke rumah pasien TB yang sedang berobat ataupun yang datang sendiri melalui Poli TB, pola investigasi kontak ini berguna untuk dilakukannya skrining kepada seluruh keluarga dan juga empat rumah tetangganya,” ujar Ozi.

Sehingga, lanjut Ozi, jika ada anak yang berumur 0-14 tahun meskipun tidak mempunyai ciri-ciri diduga TB maka kader akan memberikan voucher agar anak tersebut melakukan tes mantoux yang disediakan setiap Minggu sebagaimana jadwal yang telah ada.

“Dengan adanya program ini sangat membantu dalam menemukan kasus TB anak khususnya di Jakarta Timur sebagai pilot project sampai Juni tahun depan,” kata Ozi.

Adapun kader yang terlibat membantu program MATiC merupakan kader TB yang sudah ada sebelumnya, sepeti Kader TB ‘Aisyiyah, Kader TB PKPU, kader kesehatan puskesmas, kader posyandu, dan kader jumantik. (raipan)

Shared:
Shared:
1