MDMC Terus Berupaya Tingkatkan Kapasitas Kelembagaan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 30 Juli 2017 11:25 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah memiliki lembaga penanggulangan bencana yang dalam bahasa inggris disebut “Muhammadiyah Disaster Management Center” atau biasa disingkat MDMC. Muhammadiyah mengkondisikan sumberdaya manusianya untuk penanggulangan bencana.

Hal ini merupakan amanat dari Muktamar Muhammadiyah tahun 2010 silam. MDMC bergerak dalam kegiatan kebencanaan di seluruh wiayah Indonesia. Dengan tujuan sebagai penolong bencana yang unggul dan berbasis penolong kesengsaraan oemoem (PKO) sehingga mampu meningkatkan kulitas dan kemajuan hidup masyarakat yang sabar dan tangguh terhadap bencana serta mampu memulihkan korban bencana secara cepat dan bermartabat.

Hospital and Community Preparedness for Disaster Management (HCPDM) merupakan salah satu program andalan MDMC. Program yang telah dirilis pada tahun 2010 ini bertujuan menyiapkan rumah sakit siaga di beberapa daerah  dalam menghadapi bencana.

“Program ini terbukti berhasil ketika Bima mengalami banjir bandang pada Maret 2017 lalu yang mengakibatkan infrastruktur rumah sakit rusak terendam banjir dan mengalami collapse. Dengan konsep rumah sakit siaga HPCRED, dalam kurun waktu satu minggu rumah sakit tersebut sudah dapat difungsikan kembali, ungkap Barori Budi Aji sekretaris MDMC saat ditemui di Gedung Muhammadiyah Jl KH. Ahmad Dahlan pada Jumat (28/7).

Selain mendampingi rumah sakit untuk siap siaga pada bencana, MDMC juga menyiapkan kesiapan rumah sakit dan masyarakat di sekitar rumah sakit dalam menghadapi bencana. Sehingga masyarakat di sekitar rumah sakit pun diharapkan bisa menjadi relawan saat terjadinya bencana.

“Tentunya rumah sakit yang diutamakan adalah milik ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah,” jelas Barori.

Selain itu, MDMC juga melakukan peningkatan kapasitas kelembagaan di beberapa wilayah Muhammadiyah se-Indonesia. Hal ini merupakan pendampingan MDMC pada wilayah-wilayah yang memiliki kerentanan bencana di Indonesia.

Beberapa wilayah tersebut antara lain Jawa Barat, Lombok, Maluku, dan Palembang. Program ini akan berjalan selama 3 tahun dan 2017 ini merupakan tahun yang pertama. Meski MDMC mengaku memiliki kendala pada sumber daya manusianya, lembaga ini tetap bekerja demi kemanusiaan secara totalitas.

Tak hanya bermanfaat di negeri sendiri, lembaga penanggulangan bencana ini juga ikut membantu menanggulangi bencana di ranah internasional. Pencapaian memuaskan tersebut, terbukti dengan adanya beberapa program MDMC yang bekerjasama dengan Pemerintah Australia. Kemudian dengan beberapa kali Lembaga Penanganan Bencana Muhammadiyah ini melakukan respon di tingkat internasional seperti pada waktu gempa di Nepal tahun 2015, MDMC dipercaya menjadi Liaison Organizer (LO) mewakili Indonesia untuk Nepal di bidang medis.

Pada bencana topan Haiyan 2013 lalu di Filipina, MDMC juga turut turun tangan. Hingga kini tahun 2017, MDMC diberikan kepercayaan untuk menjadi pemandu komandan untuk penanganan bantuan kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar. Ini tidak hanya untuk pengungsi rohingnya, namun juga untuk warga budha di Myanmar. Pada konflik Suriah yang berlansung hingga detik ini pun, MDMC tetap mencantumkan namanya sebagai relawan kemanusiaan. (hanifah/jaya)

Shared:
Shared:
1