Anies Baswedan Kunjungi PP Muhammadiyah, Busyro: Anies Akui Pentingnya Menyerap Pemikiran Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 19 Juli 2017 16:04 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Rasyid Baswedan pada Rabu (19/7) silaturahim mengunjungi Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta dan diterima langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Busyro Muqoddas.

Anies mengatakan kunjungan ini merupakan bentuk silaturahim dan meneruskan apa saja yang sudah dilakukan selama ini bersama-sama Muhammadiyah. Ia juga mengatakan  Muhammadiyah telah banyak bergerak diberbagai bidang, diantaranya kesehatan, pendidikan, dan sosial. Begitu pula Jakarta yang punya tantangan yang cukup besar terhadap masalah sosial.

“Sehingga tadi kami membicarakan bagaimana pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki teman-teman Muhammadiyah, yang nantinya dapat membantu ikut merumuskan solusi untuk Jakarta dan melaksanakannya,” ucap Anies.

Anies juga mengatakan bahwa ketimpangan di Jakarta luar biasa, gap antara kaya dan miskin, gap antara pekerja dan tidak pekerja, serta gap antara yang berpendidikan dan tidak berpendidikan, itu sema terjadi.

“Nah, kita ingin agar pembangunan Jakarta lebih berpihak kepada mereka yang selama ini termarjinalkan. Harapannya Muhammadiyah sudah bekerja dalam pengentasan kemiskinan, dalam peningkatan mutu kualitas manusia, di dalam kesehatan, dalam penyusunan rencana kita bisa bekerja bersama,” imbuh Anies.

Dalam kesempatan itu Busyro menyampaikan bahwa Anies mengakui pentingnya menyerap pemikiran-pemikiran Muhammadiyah. “Nah yang saya sampaikan tadi, berdasarkan pengalaman 10 tahun di Jakarta mengelola lembaga negara itu banyak hal yang bisa dilakukan, yaitu terkait desain pembangunan, tata ruang antar RT/RW, transportasi, ABPD, pertanian, dan lain-lain yang berbasis pada komitmen pasal 33 UUD 45 itu seperti apa,” terang Busyro.

Busyro berharap Anies dapat menjadi model gubernur di pusat ibu kota negara yang memajukan budaya metropolitan dengan budaya masyarakat menengah kebawah, yaitu sebagai basis cultural bagi sosial dan juga politik, serta basis nilai-nilai ideologi kebangsaan.

“Hal itu membutuhkan desainer dan itu hanya bisa ditampilkan oleh orang yang memiliki latarbelakang akademis dan berorganisasi atau dengan track record yang jelas,” pungkas Busyro. (adam/syifa)

 

Shared:
Shared:
1