Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Hadir Sebagai Upaya Melahirkan Insan Cerdas dan Berakhlak Mulia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 13 Juli 2017 11:23 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA– Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memandang Perguruan Tinggi (PT) sangat diperlukan namun harus sesuai kualitasnya.

Edy Suandi Hamid, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan masyarakat memang membutuhkan aksesibilitas untuk PT namun masyarakat juga berhak mendapatkan PT yang berkualitas dan terjamin.

“Banyak sekali jumlah PT di Indonesia dan ini tidak terkendali yang akhirnya membuat pemerintah sadar untuk menerapkan moratorium terbatas.Maka, dalam beberapa bagian perizinan PT untuk beberapa prodi di beberapa wilayah tidak semudah sebelumnya,” jelasnya, Rabu (12/7).

Dalam hal ini, menurut Edy, Muhammadiyah telah melakukan pembatasan terhadap pendirian Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) dan kebijakan ini diambil jauh sebelum ada kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah.

“Sehingga Muhammadiyah lebih menyadari dulu jika peningkatan kualitas adalah keniscayaan. Hal itu juga menjadi realisasi peningkatan mutu PTMA yang unggul, tak ayal kini PTMA berhasil menelurkan empat PTMA diantaranya UMY,UMM,UHAMKA, dan UMS dengan akreditasi A dan 85 prodi dengan akreditasi A,” paparnya.

Edy menklaim bahwa PTMA memiliki kualitas yang lebih baik daripada PTS ‘perorangan’ terutama yang berada di daerah-daerah. Apalgi dari semua PTMA jumlah institusi yang terakreditasi sudah mencapai 48% sedangkan PTS hanya 20%.“PTMA bukan lagi pemain pinggiran melainkan bermain di kelas menengah dan kelas atas,” ujarnya.

Hal itu terjadi, imbuh Edy, karena sumber daya manusia yang memadai, staf, dosen, pengajar dan juga hasil riset dan publikasi yang berkualitas. “Sarana dan prasarana pendidikan pun kami usahakan, selu­ruh indi­kator itu tentu memiliki kontribusi dalam melahirkan lu­lusan yang unggul baik dari sisi akademis, keterampilan serta karakter,” pungkasnya.

Menurutnya, indikator-indikator itulah yang membuat PTMA berhasil mendapatkan kepercayaan publik dan membuatnya men­jadi pilihan bagi para calon maha­siswa. Ia sepakat saja dengan moratorium pendirian PT kuantitas memang penting namun kualitas jauh lebih penting sehingga PT mampu hadir sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya isu radikalisme atau intoleransi di dalam PTMA karena visinya telah dijelaskan bahwa PTMA memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta keterampilan  untuk pembangunan dan masyarakat Indonesia dilakukan berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945,” tegasnya.

Edy juga mengatakan bahwa PTMA hadir sebagai salah satu upaya Persyarikatan untuk berkontribusi dalam melahirkan insan cerdas, percaya diri, dan berakhlak mulia. (syifa)

Foto: Ilustrasi

Shared:
Shared:
1