Soal Ekonomi, Umat Islam Ibarat Buih di Lautan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 11 Juli 2017 11:23 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ekonomi kapitalis telah bertahun-tahun menguasai Indonesia, hal ini dibuktikan dengan pernyataan Presiden Jokowi tentang ekonomi Indonesia yang justru dikuasai oleh orang asing. Masyarakat Indonesia saat ini dituntut untuk melakukan inovasi terbaru agar bisa mengalahkan keberadaan ekonomi kapitalis yang berkembang pesat.

Ahmad Ma’ruf  Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menilai seharusnya kita tidak perlu terlalu pusing dengan keberadaan ekonomi kapitalis di Indonesia, yang perlu kita lakukan ialah fokus untuk mengembangkan sistem ekonomi syariah, soal mengapa sistem ekonomi syariah belum berkembang maka perlu kita cari jawabannya.

Logika dasar umat islam berpegang dengan qur’an hadis dan ekonominya itu ekonomi syariah tapi tidak perlu dilabeli dengan hal itu. “Umat Islam di Indonesia ini seperti buih di laut, banyak sekali orang-orang beragama Islam yang seharusnya menggunakan sistem ekonomi syariah namun nyatanya tidak, ini berarti yang salah bukan sistem ekonomi kapitalisnya tapi orang-orang muslim yang masih menggunakan sistem ekonomi tersebut,” jelas Ma’ruf.

“Jangan menyalahkan orang lain, bangun saja sistem ekonomi berkeadilan, ciri ekonomi syariah itu sederhana, ekonominya itu memiliki value tidak sekedar bertumpu pada capital value apa yang diusung tentu yang rahmatan lil alamin, dia harus adil dan sharing economy kalau ditelusur filosofinya itu ekonomi Islam,” jelas Ma’ruf.

Ekonomi Pancasila, lanjut Ma’ruf substansinya seperti ekonomi Islam tapi tidak perlu dilabeli Islam, pertanyaannya kenapa ekonomi itu malah tidak tumbuh di Indonesia?

Ma’ruf mengatakan pengetahuan menjadi problem utama kenapa ekonomi syariah tidak berkembang di Indonesia, orang yang tau tentang ekonomi syariah tidak menggunakan dan orang yang tidak tau tidak berusaha mencari tau dan semakin kebingungan.

Ekonomi syariah dapat digunakan dalam semua sektor bisnis, jadi ekonomi syariah jangan hanya dikesankan dengan sektor keuangan saja, padahal itu hanya bagian kecil. Banyak orang hijrah kepada produk halal dan menjadi trend tetapi masih minority belum mainstream.

Kesimpulannya, kata Ma’ruf, umat kita rapuh dalam ideologi dan penguasaan asset dan sumbernya, dari rapuh dalam penguasaan IPTEK. Faktor yang kedua, problem utamanya adalah jumlah entrepreneur muslim itu sedikit, apalagi anak muda itu banyak maka otomatis sharing economy, ekonomi berkeadilan itu maka sistem akan bergerak, tapi ketika wirausahanya minoriti maka selamanya kita nyadong jadi pekerja, itu filosofinya, sumbernya itu tidak lepas dari sistem pembelajaran dari kampus, atau saat pendidikan dasar.

“Kalau kita dididik ekonomi barat ya mainstreamnya juga akan barat, sedangkan saat ini penduduk Indonesia yang kuliah hanya 10% dan yang mengambil mata kuliah syariah paling hanya 0.1%, ya semakin jauh kan, harusnya pemahaman itu dibangun sejak pendidikan dasar tanpa dilabel ekonomi syariah karena negara ini adalah negara yang rentan dengan labelling,” jelas Maruf.

Kiat-kiat yang lain yaitu jejaring ekonominya, harus membentuk lingkungan. Teman-teman Thionghoa kenapa bisa kuat berbisinis? Karena lingkungannya semua pebisnis yang sukses. Coba kita liat di Jepang, Korea, Australia, Eropa, penduduknya civic educationnya itu kuat dan kita ini tidak, jadi pengkondisian lingkungan ini perlu agar entrepreneur muslim ini tumbuh dengan cepat.

“Kalau rasionya bisa 5% Indonesia pasti berubah menjadi negara produksi, kalau pemuda Indonesia paham ekonomi syariah, ekonomi Pancasila, sharing ekonomi, ekonomi berkeadilan akan tumbuh dengan sendirinya ketika kurang lebih entrepreneur itu mencapai 5%,” ungkap Ma’ruf.

Ketika ditanya mengenai keunggulan ekonomi Syariah, Ma’ruf mengatakan keunggulan ekonomi syariah itu banyak keunggulannya mengedepankan keadilan, adil dalam konteks ekonomi itu tidak take all.

“Contohnya saja fenomena transportasi online, transportasi konvensional mulai gerah kok ada transportasi dengan teknologi, murah, ini kegagalan dalam management bisnis harusnya mereka tidak perlu rame, harusnya tanya, mengapa mereka lebih bisa murah? Mengapa supirnya itu bisa memiliki mobil dalam jangka waktu 3 tahun? Dan tidak perlu ada saling protes antara satu sama lain,” paparnya.

Ekonomi bisa tumbuh jika faktor entrepreneur kuat, punya komitmen value dan friendly dengan teknologi, karena teknologi alat untuk manusia menjadi kompetitif.

“Kita hanya berwacana atau merebut? Sistem Ekonomi kapitalis itu dibuka sejak jaman Soeharto, lahir dari orde baru, dan sekarang kita menerima getahnya, mau bergerak apapun sulit, karena dikuasai konglomerat hitam yang menguasai lebih dari 80% sistem ekonomi di Indonesia, karena umat islam seperti buih tidak memiliki komitmen dalam merebut ekonomi kapitalis tersebut dengan ekonomi syariah,” pungkas Ma’ruf. (syifa)

Foto: Ilustrasi

Shared:
Shared:
1