Haedar: Sumblimasi Diri, Integrasi untuk Negeri

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 25 Juni 2017 04:07 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Umat Islam saat ini tengah berada di penghujung Ramadhan. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak seluruh umat Islam agar memanfaatkan momentum idul fitri untuk menebarkan benih perilaku yang utama.

Haedar berpesan agar umat Islam dapat menjadikan puasa dan idul fitri sebagai sublimasi diri yang membentuk karakter setiap insan muslim sebagai uswah hasanah dalam menampilkan perilaku  yang benar, bersih, baik, dan segala keutamaan sehingga siapapun merasakan rahmat dan manfaat dari kehadirannya.

“Di tengah suasana kesenjangan sosial yang melebar dan banyak saudara sebangsa yang malang nasibnya, alangkah mulianya kita menggelorakan semangat saling berbagi dan peduli dengan jiwa altruisme yang autentik, bahwa Tuhan akan membela para hamba yang membela sesamanya,” ungkap Haedar, Ahad (25/6).

Selain itu, lanjut Haedar sepatutnya setiap muslim menyatukan kekuatan untuk mewujudkan ukhuwah yang autentik, bahwa bersaudara seiman dan sebangsa benar-benar tulus dan jernih di atas ikatan iman dan ihsan, yang tidak tergerus dan tersandera oleh kepentingan-kepentingan sempit kelompok dan golongan. “Berukhuwah dengan sesama seiman sama pentingnya dengan persaudaraan sebangsa, begitu pula sebaliknya, yang dirajut di atas kepentingan bersama nan tulus dan bening,” lanjut Haedar.

Bangsa ini  dilanda retak karena pertarungan politik yang keras dan ulah sementara elite yang gegabah. Karenanya diperlukan spirit kebersamaan dan kesediaan berkorban dari seluruh komponen bangsa untuk merajut persaudaraan sebangsa dan setanah-air sebagaimana diteladankan para pendiri bangsa.

“Umat Islam sebagai mayoritas dengan spirit puasa dan keislaman yang rahmatan lil-'alamin perlu menjadi pengayom dan perekat integrasi nasional dengan seluruh warga bangsa sebagaimana selama ini telah ditunjukkan dalam sejarah perjalanan bangsa. Kembangkan sikap tasamuh dan ukhuwah yang lapang hati demi keutuhan negeri,” ucap Haedar.

Politik yang serba bebas dan transaksional yang selama ini menjadi wajah nasional penting untuk dilandasi dan dibingkai nilai-nilai keagamaan yang luhur, sehingga membuahkan kemaslahatan untuk masa depan bangsa dan tidak menjadi faktor disitegrasi nasional. Para elite politik diajak untuk mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kroni.

“Kedepankan jiwa kenegarawanan dan jauhi  sikap saling sandera yang menyebabkan terkorbankannya hajat hidup bangsa dan negara. Perlu paradigma baru politik dan demokrasi yang bermoral mulia berbasis agama serta dijiwai hikmah kebijakansanaan dan permusyawaratan sebagaimana nilai luhur Pancasila,” tegas Haedar.

Haedar mengatakan bahwa para penegak hukum di seluruh institusi negara dan lembaga auxiliary (Komisi Negara) termasuk KPK penting menegakkan prinsip keadilan dengan topangan nilai luhur Agama dan Pancasila.

Hal itu agar para penegak hukum benar-benar jujur, adil, dan tegak di atas kebenaran; serta tidak menyalahgunakan dan melakukan politiasasi hukum demi kepentingan tertentu yang merugikan kepentingan penegakkan hukum yang lebih luas.

“Ajaran agama mengingatkan bahwa sekali kekuasaan disalahgunakan maka dampak buruknya sangatlah luas dalam wujud perbuatan fasad yang hukumnya berat di hadapan Allah Yang Maha Mengadili,” ungkap Haedar.

Haedar juga berpesan kepada seluruh warga bangsa dan lebih-lebih umat bergama untuk merajut persaudaraan sebangsa yang dilandasi jiwa kasih sayang, damai, dan toleran demi tegaknya kehidupan yang berperadaban utama. “Dalam keberbedaan kita dapat hidup saling berbagi, tolong menolong, berdampingan secara damai, rukun, dan saling memajukan senagaimana ajaran luhur Ilahi,” jelas Haedar.

Terakhir, Haedar mengungkapkan bahwa seiring dengan meluasnya penggunaan media sosial dan media massa lainnya, kaum muslimin maupun umat beragama pada umumnya penting memberikan teladan dalam perangai berkeadaban. Kedepankan ujaran-ujaran yang cerdas, santun, damai, dan dialogis sebagai cermin umat dan bangsa berkeadaban mulia. Jauhi ujaran-ujaran yang mengandung kebencian, peemusuhan, adu domba, ghibah, dan fitnah. Umat dan bangsa yang beradab ialah yang berujar dan berturur kata atau menulis dengan akhlaq mulia.

“Kaum muslimin jadilah umat pemaaf dan berjiwa ihsan buah dari puasa dan idul fitri,” pungkas Haedar. (adam)

Shared:
Shared:
1