Ghirah ‘Aisyiyah Harus Tetap Dipertahankan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 20 Juni 2017 13:24 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menggelar Baitul Arqom yang diikuti oleh 60 peserta pada Sabtu (17/6) di Gedung Aula Fakultas Kedokteran Kesehatan Universitas  Muhammadiyah Jakarta. Peserta pada kegiatan itu terdiri dari perwakilan pimpinan dan pengurus Aisyiyah yang tergabung dalam badan pembantu pimpinan serta  pimpinan wilayah ‘Aisyiyah Jakarta.

Masyithoh Chusnan, Ketua PP ‘Aisyiyah yang hadir dalam Baitul Arqom tersebut mengatakan bahwa saat ini penguatan organisasi ‘Aisyiyah dengan problem keummatan  ini penting, mengingat tantangan ‘Aisyiyah saat ini sangat kompleks baik di ranah eksternal maupun internal.  

“Saat ini ‘Aisyiyah membutuhkan ghirah perjuangan dan tekad yang harus dipertahankan, karena ‘Aisyiyah lahir dan berkembang ditengah-tengah perjalanan ummat dan bangsa ini yang selalu berdinamika dalam proses kehidupannya, disitulah peran ‘Aisyiyah dalam menyeimbangkan dan mengadakan perubahan dengan pencerahan ummat yang berkemajuan,” ungkap Masyithoh.

Kemudian Isnawati Rais, Dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta mengatakan bahwa penguatan organisasi dalam Baitul  Arqom PP ’Aisyiah dan Muhammadiyah ditentukan dan dititikberatkan pada sinkronisasi dan kesatuan system.

“Sistem perkaderan ‘Aisyiah atau Muhammadiyah ditentukan berdasarkan pada pimpinan ‘Aisyiah atau unsur pembantu pimpinan di dalam penjenjangan, perkaderan fungsional yang dilaksanakan oleh unsur pembantu pimpinan yang lain kemudian diserahkan kepada kebijakan dan kebutuhan masing-masing majelis atau lembaga penyelenggara,” ungkap Isnawati.

Lebih lanjut Isnawati mengatakan bahwa di dalam peneguhan ideologi,Muhammadiyah dan ’Aisyiyah  sebagai gerakan tajdid, mendorong tumbuhnya pemikiran islam yang sehat, bertanggung jawab dan mengupayakan tercapainya cita-cita bangsa serta kemajuan umat Islam di segala bidang kehidupan.

“Sedangkan dalam gerakan purifikasi, Muhammadiyah dan ’Aisyiyah sebagai gerakan tajdid yang  mendorong tumbuhnya pemikiran islam yang sehat,  bertanggung jawab dan mengupayakan tercapainya cita-cita bangsa,“ tutup Isnawati. (nisa)

Kontributor: Suhendra

 

Shared:
Shared:
1