Yunahar: Jika Tauhid Tidak Murni, Beragama jadi Berbiaya Mahal

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 07 Juni 2017 18:46 WIB

TANGERANG SELATAN, MUHAMMADIYAH.OR.ID – Muhammadiyah, kata Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas sepanjang usianya terus melakukan upaya pemurnian tauhid. Muhammadiyah menginginkan tauhid yang murni. Ketauhidan yang murni pada akhirnya akan membawa masyarakat yang maju, dengan perilaku beragama yang efektif dan efisien.

“Jika tauhid tidak murni, beragama jadi berbiaya mahal,” kata Yunahar dalam Pengkajian Ramadhan 1438 H yang dihelat di Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Rabu (7/6).

Dalam materi “Manhaj Islam Washatiyyah: Kontekstualisasi dan Revitalisasi melalui Gerakan Pendidikan dan Sosial Budaya”, Muhammadiyah dalam rangka mewujudkan tauhid yang murni, Muhammadiyah menolak semua bentuk sintesisme, singkretisme dan relativisme agama.

Menurutnya, pemahaman al-Quran dan Hadis secara independen, komprehensif dan integratif. Dalam hal ini, Muhammadiyah tidak terikat dengan aliran theologis, mazhab fikih serta tharekat sufiyah manapun. Menurut Yunahar, Muhammadiyah tetap pada posisi sebagai ahlus al-sunnah wa al-jamaah, sesuai dengan sebutan nabi dalam hadis al-firqah al-najiyah min al-salaf.

Dengan posisi ini, Muhammadiyah tidak menolak sama sekali atau anti terhadap mazhab, aliran theologis, atau tharekat sufiyah.

“Terutama dalam hal fikih, Muhammadiyah lebih mementingkan metodologinya atau fikih manhaji bukan fikih mazhabi”, ujarnya.

Muhammadiyah tetap mempertimbangkan semua pendapat para imam mazhab dalam mengambil suatu instinbat hukum. Demikian halnya dalam tasawuf, Muhammadiyah memandang bahwa tasawuf sebenarnya telah diajarkan dan dipraktekkan oleh Nabi.

Lebih lanjut lagi, Tajdid Muhammadiyah memandang bahwa tajdid memiliki dua sayap yang harus berjalan seimbang. Yaitu pemurnian (purifikasi) dan dinamisasi (modernisasi). Purifikasi dalam ranah akidah, ibadah dan akhlak. Sementara dinamisasi dalam semua aspek kehidupan yang sangat luas, meliputi bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Yunahar memandang bahwa Muhammadiyah masih harus lebih giat lagi dalam melaksanakan tajdid dinamisasi. “Tajdid kedua ini masih kurang,” ujarnya.

Kyai Dahlan, kata Yunahar, telah melakukan tajdid sesuai dengan zamannya dengan mendirikan sekolah dan rumah sakit modern, misalnya. Meskipun sempat ditertawakan, tawaran ini pada akhirnya diterima luas. Hari ini harusnya Muhammadiyah mampu untuk mengaktualkan tajdid dalam bidang politik dan ekonomi untuk ditawarkan kepada Negara.

Moderat (washatiyyah) Muhammadiyah selalu memilih jalan tengah di antara dua kutub ekstrem. “Kita harus paham radikal, harus paham liberal, baru kemudian mengambil sikap,” katanya.

Aktualisasi dari moderat ini adalah tidak bersikap hegemonik serta selalu menghargai pendapat orang lain. “Jadilah muslim yang biasa-biasa saja sebagaimana Pak AR,” ujar Yunahar.

Sebagai gerakan washatiyyah, Muhammadiyah juga menolak gerakan takfir dan sikap memaksakan. Dalam berdakwah, kata Yunahar, Muhammadiyah menganut prinsip untuk memajukan dan menggembirakan masyarakat.

Shared:
Shared:
1