Menteri Agama: Akibat Sifat Fanatik Berlebih Terhadap Agama, Manusia Lupa Esensi Agama

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 06 Juni 2017 12:16 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Menteri Agama, LukmanHakim Syaifuddin, mengatakan fungsi agama sesungguhnya untuk membawa umat manusia dari alam kegelapan menuju alam terang benderang. Maka agama diturunkan hakikatnya adalah untuk manusia. Namun untuk apakah manusia beragama sesungguhnya? Karena sering kali manusia lupa akan esensi beragama akibat sifat fanatik berlebih terhadap agama.

“Sepersonal apapun ibadah mahdloh, tetap berujung pada aspek sosial, tidak ada ibadah mahdloh sekalipun yang berhenti hanya sampai di Tuhan saja. Shalat misalnya yang sangat pribadi, tapi quran mengatakan inna sholata tanha anilfahsyai walmunkar, jadi ujungnya tetap saja esensi shalat itu sebenarnya dalam upaya untuk mencegah fahsya dan munkar, jadi aspek sosial,” ucapLukmandalam Pengajian Ramadhan 1438 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah Senin (5/6) di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Lukman mencontohkan Ibadah yang lebih personal lainnya yaitu puasa, yang dikatakan dalam sebuah hadis bahwa seluruh amal bani adam akan kembali padanya sebagai seorang hamba, kecuali puasa, karena puasa itu (kata Allah) ‘bagianku milikku’ dan Allah sendiri yang akan membalasnya.

Tapi yang sebegitu personalnyapun puasa tersebut ujungnya agar bagaimana manusia bisa memiliki kepekaan sosial, memahami sesama, bisa melakukan instrospeksi (diri) dalam rangka mengenali sesungguhnya hakekat jati diri manusia, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah fil ardi.

“Oleh karena itu menurut saya praktik keberagamaan yang mencerahkan menurut saya begitu kental ditunjukan oleh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, yaitu dengan memahami betul esensi agama yaitu untuk bersosial, bagaimana kualitas kita itu ditentukan dari seberapa besar nilai manfaat yang disebarkan kepada sesama,” ungkap Lukman.

Maka menurut Lukman hal tersebut perlu dijaga, dipelihara dan dikembangkan. Ia juga merasa bersyukur bahwa Muhammadiyah tidak hanya menjalankan ‘warisan’ pendahulunya tetapi lebih dari itu melakukan kreasi dan inovasi dalam melahirkan sesuatu yang lebih dibutuhkan di masa depan.(raipan)

Shared:
Shared:
1