Empat Modal Dasar Penggerak Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 05 Juni 2017 10:11 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Syafiq A Mughni Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan bahwa Muhammadiyah didirikan untuk sebuah cita-cita. Jadi bukan hanya berjarak lima puluh dan seratus tahun saja, tapi untuk masa selama-lamanya. Bukan hanya kepentingan pragmatis, tapi ada ideologi dan cita-cita yang menggerakkan lahirnya persyarikatan.

“Maka dari itu adanya komitmen, bagaimana mewujudkan cita-cita Muhammadiyah. Ada Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), identitas Muhammadiyah, dan lain sebagianya. Sesungguhnya kita memiliki modal banyak. yang menjadi dasar untuk menggerakkan dan mengembangkan persyarikatan Muhammadiyah,” ucap Syafiq Sabtu (3/6) dalam pengajian Ramadhan 1438 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Modal yang pertama menurut Syafiq ialah sumber daya manusia yang dimiliki. Ada persoalan kuantitas dan persoalan kualitas. Untuk persoalan kuantitas, menurut Syafiq Muhammadiyah sudah dikenal organisasi yang sangat besar. Persoalan yang diahadapi adalah perihal kualitas. “Apakah kita sudah memiliki kualitas yang cukup untuk menjadi sebuah gerakan. Awal-awal kelahiran persyarikatan, anggota-anggota Muhammadiyah cukup mumpuni secara intelektual dan ekonomi, sehingga mampu walupun sedikit, bisa  berbuat untuk masyarakat. Saat ini  semakin sudah banyak, akhirnya anggota Muhammadiyah juga harus mendapat sentuhan Al Maun,” terang Syafiq.

Hal itu menjadi dinamika. Namun, karena dakwah amar maruf nahi munkar, maka keduanya harus dipacu, dengan prioritas kualitas yang lebih diutamakan.  Modal yang kedua ialah pemikiran Islam yang berkemajuan. “Seharusnya Muhammadiyah dengan yang di luar Muhammadiyah, lebih baik berbagi-bagi tugas. Ada yang bertugas mempertahankan NKRI, maka Muhammadiyah bertugas memajukan NKRI. . Pikiran-pikiran Islam berkemajuan, sangat penting dan menjadi karakteristik Muhammadiyah yang orientasi ke depan. Islam berkemajuan sangat diharapakan oleh negeri ini, bahkan dunia internasional,” ungkapnya.

Modal ketiga yaitu amal usaha Muhammadiyah yang mandiri dan profesional. Jika hanya berwacana, tanpa basis yg konkrit  sebagai syiar maka akan menjadi seperti organisasi-organisasi  yang lain, yang pernah ada.

Dan modal yang keempat yang tak kalah pentingnya adalah budaya organisasi, di dalam persyarikatan  tidak akan berjalan dengan baik tanpa hal ini. “Kita memiliki bahasa, isyarat-isyarat, dan idiom-idiom yang sama. Sehingga mampu membangun kesepakatan-kesepakatan dalam berinteraksi, baik individu maupun organisasi,” imbuh Syafiq.

Syafiq menyebut keempat modal tersebut sebagai budaya organisasi Muhammadiyah, yakni spirit beramal, fastabiqulkhoirot, AUM tumbuh dari bawah, dan komitmen pada persyarikatan. (M Fathi Djunaedy)

 

Shared:
Shared:
1