Haedar: Para Tokoh Bangsa Perlu Melakukan Mi'raj Ruhani

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 03 Juni 2017 09:53 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan hikmah ramadhan dalam acara Silaturahim dan Buka Puasa Bersama yang digelar Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, di kediamannya di kawasan Kuningan, Jakarta, Jum’at (2/6).

Dalam penyampaiannya Haedar memaparkan sabda Nabi Muhammadi SAW tentang puasa asy-syiaamu zunnah atauperisai diri. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. Puasa adalah perisai, maka jangan engkau sekali-kali berbuat sesuatu yang keji dan bodoh. “Kalau ada orang yang mengajak kita bertengkar di bulan Ramadhan, katakan bahwa aku sedang berpuasa,” papar Haedar.

Spirit zunnah sesungguhnya mengandung ihsan atau kebajikan yang melampaui benteng ruhani manusia. Dalam bahasa lain Rasulullah SAW menyebutnya sebagai jiwa rif’ah ataujiwa mulia. Nabi juga memberi contoh tiga hal, yakni pertama, menyambung silaturahim atas orang yang memutusnya, kedua, menghalalkan pihak yang mengharamkan diri kita atau apapun yang berkaitan dengan kita.

“Kita sering membalas seseorang yang berbuat sesuatu yang negatif dengan kenegatifan yang sama. Rasul mengajarkan kalau orang mengharamkan kita, justru kita halalkan apapun yang berkaitan dengan relasi kemanusiaan kita,” tutur Haedar.

Terakhir, berbuat lemah lembut tarhadap orang yang bertindak bodoh kepada kita. Di tengah suasana Ramadhan dan kehidupan kebangsaan saat ini, para tokoh bangsa sungguh perlu melakukan mi’raj ruhani untuk memberikan teladan kepada rakyat dan warga bangsa di negeri Indonesia tercinta.

Dalam kuasa Allah, sambung Haedar, tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan bahkan butir dan ranting yang jatuh dikala malam, semua itu tidak pernah terjadi tiba-tiba dan kebetulan kecuali karena kuasa Allah. Maka bulan Ramadhan tentu juga bulan untuk mengambil pelajaran tentang jiwa rif’ah, atau jiwa kenegarawanan dari para tokoh bangsa.

Selain Haedar, dalam acara itu juga hadir para tokoh agama dari berbagai organisasi islam, pimpinan partai, aparat negara, duta besar negara islam hingga persiden Republik Indonesia, Joko Widodo. (raipan)

 

 

 

 

 

Shared:
Shared:
1