Muhammadiyah Tingkatkan Pemberdayaan Kader dalam Fungsi Kerjasama Internasional

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 02 Juni 2017 15:26 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL ‒ Sudibyo Markus Wakil Ketua Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI)  dalam Pengajian Ramadhan 1438 H PP Muhammadiyah yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jum’at (2/6) menyampaikan bahwa, terdapat berbagai fungsi kerjasama interansional yang berhubungan dengan Muhammadiyah secara out of box.

Sudibyo menjelaskan bahwa mengenai pemberdayaan kader memiliki 3 fungsi yang menjadi tantangan kader yang dimiliki Muhammadiyah, yaitu level makro yang harus menjadi Sumber Daya Manusia yang handal, harus menguasai kecerdasan intelejen atau sosial. Kemudian ditingkat meso, dimana kader harus merubah jati dirinya. Selanjutnya, yaitu esensi peran kebutuhan dengan membangun jaringan baik di tingkat global, nasional hingga tingkat lokal.

Selain itu Sudibyo juga menambahkan bahwa dalam memberdayakan kader terdapat beberapa langkah, diantarnya yaitu memberdayakan kader dalam lingkup mikro dan meso, yang dalam pengembangan sumber daya manusia dengan kecerdasan majemuk (human capital) menjadi modal sosial (social capital).

Selanjutnya yaitu memberdayakan kader dalam konteks makro melalui daya dukung terhadap visi Muhammadiyah tahun 2025 dengan lima pengembangan, yaitu : sistem gerakan, organisasi dan leadership, jaringan SDM, serta aksi dan pelayanan. Dimana hal ini merupkan wujud nyatanya.  

 “Muhammadiyah hingga saat ini terus maju dan berkembang karena adanya pranata, gerakan Muhammadiyah harus mampu mengubah human capital menjadi unsur individu, kualitas pribadi, dan economic outputs,tegas Sudibyo.

Kemudian Sudibyo juga menghimbau kepada peserta pengajian bahwa tugas kader Muhammadiyah saat ini harus bisa memfungsikan dirinya baik di tingkat mikro yang memiliki kecerdasaan majemuk, tapi juga berfungsi untuk ummat sebagai masyarakatsipil.

“Kecerdasan majemuk dengan wujudan Islam yang berkemajuan majemuk harus dapat direspon, dan terakhir yaitu perlu kesimbangan antara kapasitas ideologi dan sistem gerakan,” pungkas Sudibyo. (tuti)

Shared:
Shared:
1