Ideologi Muhammadiyah Merupakan Rumusan Tentatif

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 02 Juni 2017 00:04 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ideologi Muhammadiyah merupakan rangkaian kerja intelektual yang dirumuskan berdasarkan wawasan tajdid dan dilakukan melalui proses ijtihad yang terus menerus.

“Karena itu ideologi Muhammadiyah merupakan rumusan tentatif (sementara) dan bisa berubah sesuai dengan tuntutan perkembangan,” ungkap Achmad Jainuri yang merupakan dosen pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dalam Pengajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kamis (1/6) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Jainuri juga menjelaskan bahwa terdapat berbagai fungsi ideologi dalam Muhammadiyah, diantaranya sebagai alat untuk melihat kondisi kehidupan (dulu dan sekarang) yang ada yang ingin dirubahnya. Merasionalkan pandangan, ide, gagasan, dan program gerakan, yang semuanya dinilai tepat untuk menjawab persoalan umat. Dan juga sebagai justifikasi filosofis bagi tujuan gerakan.

Jainuri menyebutkan terdapat empat tantangan baru dalam ideologi Muhammadiyah. Pertama keagamaan, munculnya aliran dan gerakan keagamaan baru (transnasional), sehingga terjadi penggiringan opini ke label radikal anti kebhinekaan dan intoleransi, serta kecenderungan sikap keberagamaan yang saling menyesatkan.

Kedua sosial, kesenjangan ekonomi yang semakin melebar, meluasnya pengaruh IT dalam kehidupan sehari-hari, era simulacra yang sulit membedakan mana yang benar dan salah, issue dan fakta

Ketiga politik, sistem politik yang liberal, pragmatis, dan demokrasi korporasi serta sikap politik warga Muhammadiyah. Keempat budaya, tidak berdayanya budaya agama (meaninglessness) berhadapan dengan budaya modern yang materialistis, pragmatis dan konsumeristis.

“Sehingga nilai etika norma agama terasa tidak ada artinya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari (terutama dalam praktik politik),” ujar Jainuri.

Untuk  menjawab tantangan baru dalam ideologi Muhammadiyah tersebut Jainuri menyarakan warga Muhammadiyah intensif melakukan kajian guna peningkatan wawasan untuk dilaksanakan dalam program persyarikatan.

Selain itu, perlu juga komitmen terhadap Islam berkemajuan yang telah menjadi tagline Muhammadiyah, serta mengembangkan amal usaha berdasarkan nilai kebenaran, kejujuran, kecerdasan, serta integritas diri lainnya .

“Dan yang terpenting warga Muhammadiyah harus memunculkan kesadaran akan “nasionalisme Muhammadiyah”,” pungkas Jainuri. (fathi)

 

Shared:
Shared:
1