Nasyiatul Aisyiyah Sikapi Bahaya Rokok Terhadap Perempuan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 30 Mei 2017 10:09 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Permasalahan rokok di Indonesia sejauh ini cukup kompleks, banyak pihak yang turut menyoroti permasalahan rokok tersebut, salah satunya organisasi perempuan muda Muhammadiyah Nasyiatul Aisyiyah (NA).

NA menyoroti tentang keterlibatan perempuan dalam industri rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif. Khususnya ancaman kesehatan bagi buruh rokok perempuan yang mendominasi pabrik-pabrik rokok di Indonesia.

Dipaparkan Diyah Puspitarini Ketua Umum NA, secara keseluruhan perokok perempuan meningkat hingga 400% dalam 5 tahun terakhir dan ini merupakan capaian tertinggi di dunia. “6,3 juta wanita di Indonesia yang saat ini aktif merokok. Sebagian besar adalah usia produktif, yakni 13-40 tahun. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tuntutan gaya hidup atau merokok jadi simbol status dan stres dan tidak terkendalinya rokok yang beredar di Indonesia,” ungkap Diyah, ketika dihubungi pada Selasa (30/5).

Dan hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi NA sebagai organisasi perempuan yang menaungi perempuan muda usia produktif yakni 17-40 tahun. “NA memandang bahwa perempuan turut menentukan kualitas generasi penerus bangsa. Perempuan yang sehat dan tidak merokok dapat melahirkan anak yang sehat dan berkualitas. Hal ini juga bisa menekan angka kematian perempuan melahirkan,” jelas Diyah.

Pekerja perempuan pabrik rokok, lanjut Diyah memiliki risiko sebagai perokok pasif, dan ini tergolong kelompok rawan terkena gangguan paru, kanker kulit, dan lainnya, karena hampir setiap hari berhubungan dengan tembakau.

Selain itu para pekerja perempuan juga berpotensi terkena toksin nikotin rokok karena intensif berhubungan dengan tembakau olahan. “Debu tembakau dalam proses pemotongan maupun produksi bisa mengganggu kesehatan. Selain itu mereka juga rentan gejala kurang darah atau anemia karena tuntutan pekerjaan. Dampak lainnya selain aspek kesehatan bagi konsumsi rokok aktif maupun pasif yaitu aspek psikologis, ekonomi, sosial dan lingkungan,” terang Diyah.

Berdasarkan kondisi di atas dan menjelang peringatan Hari Tanpa Tembakau se Dunia yang jatuh pada tanggal 31 Mei , maka Nasyiatul Aisyiyah bersikap:

1. Mendesak kepada pemerintah beserta segenap lembaga negara untuk berkonsentrasi terhadap ancaman rokok dengan melakukan; pembatasan akses pabrik-pabrik rokok dan membatasi peredarannya, terutama dikalangan remaja.

2. Mendesak pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan iklan rokok di tempat umum

3. Mengajak seluruh elemen pemerintah dan masyarakat untuk melakukan edukasi tentang bahaya merokok dimulai dari lingkungan terdekat.

4. Menyarankan dengan tegas kepada setiap orang tua untuk memberikan contoh tidak merokok di lingkungan keluarga, karena hal ini sangat memudahkan anak untuk mengikuti perilaku orang tuanya.

5. Mendesak pemerintah untuk membuat kebijakan pro perempuan dengan memberikan jaminan kesehatan dan keselamatan kepada pekerja perempuan pabrik rokok. (adam)

Shared:
Shared:
1