Muhammadiyah Akan Hadiri Sidang Isbat

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 26 Mei 2017 13:34 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat pada Jumat (26/5) sore ini. Sejumlah ulama diundang dalam sidang penentuan awal ramadan ini. Sedangkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah telah menentukan awal Ramadhan jatuh pada Sabtu (27/5) berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas mengatakan bahwa Muhammadiyah sejak era Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin rutin menghadiri sidang Isbat. “Sama atau berbeda penentuan penanggalan awal Ramadhan Muhammadiyah akan datang,” ucap Yunahar, ketika ditemui pada Kamis (25/5).

Sikap Muhammadiyah tersebut, lanjut Yunahar hanya sekedar untuk menunjukkan kebersamaan, dengan ormas-ormas islam yang lain. Yunahar juga mengungkapkan bahwa sampai lima tahun kedepan atau sampai tahun 2022 penanggalan awal Ramadhan inshaallah akan sama.

Dijelaskan Yunahar, metode Hisab Hakiki yang digunakan oleh Muhammadiyah merupakan metode hisab yang berpatokan pada gerak benda langit, khususnya Matahari dan Bulan faktual (sebenarnya). Gerak dan posisi Bulan dalam metode ini dihitung secara cermat untuk mendapatkan gerak dan posisi Bulan yang sebenarnya dan setepat-tepatnya sebagaimana adanya.

“Adapun “wujudul-hilal” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pada saat Matahari terbenam, Bulan belum terbenam. Dengan perkataan lain, Bulan terbenam terlambat dari terbenamnya Matahari berapapun selisih waktunya. Dengan istilah geometrik, pada saat Matahari terbenam posisi Bulan masih di atas ufuk berapapun tingginya,” jelas Yunahar.

Untuk menetapkan tanggal 1 bulan baru Kamariah dalam konsep hisab hakiki wujudul-hilal terlebih dahulu harus terpenuhi tiga kriteria secara kumulatif, Pertama, sudah terjadi ijtimak (konjungsi) antara Bulan dan Matahari, Kedua, ijtimak terjadi sebelum terbenam Matahari, dan Ketiga, ketika Matahari terbenam Bulan belum terbenam, atau Bulan masih berada di atas ufuk.

“Apabila ketiga kriteria tersebut sudah terpenuhi maka dikatakanlah “hilal sudah wujud” dan sejak saat terbenam Matahari tersebut sudah masuk bulan baru Kamariah,” terangnya.

Sebaliknya, apabila salah satu saja dari tiga kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka dikatakanlah “hilal belum wujud” dan saat terbenam Matahari sampai esok harinya belum masuk bulan baru Kamariah, bulan baru akan dimulai pada saat terbenam Matahari berikutnya setelah ketiga kriteria tersebut terpenuhi.

Terlepas dari hal itu, Yunahar juga berpesan agar warga Muhammadiyah dapat memanfaatkan bulan suci Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. “ Marilah kita tingkatkan kualitas keimanan, kualitas ibadah, dan amal sosial kita, agar selepas bulan Ramadhan kita akan menjadi insan yang bertakwa,” pungkas Yunahar. (adam)

 

Shared:
Shared:
1