Busyro Menyebut Bom Bunuh Diri yang Terjadi di Kampung Melayu Sebagai Tragedi Pengecut

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 25 Mei 2017 12:50 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Bom bunuh diri mengguncang kawasan terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur pada Rabu malam (24/5). Ada dua ledakan dalam peristiwa tersebut, sehingga menewaskan lima orang.

Menanggapi pemboman yang terjadi, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Busyro Muqoddas mengatakan bahwa rakyat sudah semakin jenuh dan lelah dengan tontonan aksi-aksi bom atau teror. Sudah sejak tahun 2001, sampai dengan 2017 tragedi pengecut ini justru semakin meningkat intensitasnya.

Busyro juga mengatakan tidak jarang dalam melihat situasi tersebut banyak analis dan pengamat dadakan yang kerap mengaitkan pemboman tersebut dengan simbol-simbol ke-Islaman. Seperti halnya ditemukan Al-Qur'an, bendera kalimat tauhid,buku jihad, dan lainnya.

“Saya tidak kaget sama sekali dengan bom bunuh diri yang terjadi di Kampung Melayu. Bahkan kemungkinan nanti akan terulang lagi,” ungkap Busyro ketika dihubungi Kamis (25/5).

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini mengatakan bahwa yang mengetahui terjadinya pemboman tersebut ialah master skenarionya. Yang karena suatu hal tidak bisa disebutkan selama kekuasaan masih dilingkari oleh mafioso koruptor, termasuk koruptor politik yang berselingkuh dengan pemodal busuk dan penyuap pejabat, termasuk pejabat penegak hukum.

“Prediksi saya, potensi simbol-simbol islam akan sulit dihindari Polri,” terang Busyro.

Busyro mencontohkan kasus-kasus teror bom panci yang beberapa waktu lalu terjadi yang sangat intransparan. Selain itu, kasus tewasnya Siyono Klaten juga menegaskan sisi gelap kejujuran Polri termasuk densus 88.

“Sampai sekarang proses penyelidikan terhadap oknum densus 88 yang bertanggung jawab atas tewasnya Siyono tidak berlanjut,” ucap Busyro.

Laporan dugaan gratifikasi kepada oknum Polri tentang uang Rp 100 juta macet di KPK dan PPATK. “Kasus Siyono adalah sampel  sempurna bahwa ratusan kasus teror lebih banyak sisi gelapnya. Sangat disayangkan media kurang transparan dalam mengungkap kasus teror atau bom selama ini,” imbuh Busyro.

Apapun penjelasan Polri menurut Busyro tidak ada pilihan lain, kecuali hanya kesabaran mental dan akal waras untuk menerimanya sebagai kenyataan. “Hanya saja fakta sejarah membuktikan bahwa islam dan umat muslim pernah dijadikan obyek kriminalisasi politik di era orba,” ungkap Busyro.

Banyak kasus-kasus teror mirip dengan kasus teror sekarang yang justru diotaki dan difasilitasi oleh elit intelligen negara dengan cara menyusup ke kalangan eks DI TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Yang kemudian disebarkan isu kebangkitan komunisme dari Vietnam. Maka dibentuklah skenario perlawanan dengan membentuk Komando Jihad.

“Saya sangat cemas jika kejahatan teror oleh aparat negara (state terorism) di era Orba terulang lagi di masa sekarang ini,” pungkas Busyro. (adam)

Shared:
Shared:
1