Karangkajen Sebagai Saksi Perjuangan Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 24 Mei 2017 09:37 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Yogyakarta,dikenalsebagai kota dengan segudang cerita sejarah perjuangan para pahlawan. Termasuk perjuangan yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah padatahun1912 yang bermula di kampung Kauman,Yogyakarta.

Perjuangan Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah tidaklah sendiri, banyak orang-orang militan yang membantu perjuangan Muhammadiyah untuk memurnikan kembali Islamdi Indonesia, tak heran jika Muhammadiyah terus berkembang pesat seiring dengan berkembangnya dunia kearah yang lebih modern.

Salah satubasis orang yang membantu perjuangan Ahmad Dahlan ialah orang-orangkampung Karangkajen,Yogyakarta. Sejarah mencatat bahwa Karangkajen dikenal sebagai tempatnya para saudagar batik, yang tidak jauh beda dengan keseharian Ahmad Dahlan, sehingga membuat keduanya memiliki ikatan emosional terhadap, hal ini membuat KH. Ahmad Dahlan menginginkan dikuburkan di makam Karangkajen,  Yogyakarta.

Ahad, (21/5), seluruh komponen warga Karangkajen, yang dimotori oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Karangkajen dan Takmir masjid Jami’ Karangkajen, mengadakan Pengajian AkbarBela Negaradengan tema “Umat Islam Sebagai Benteng Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila” yang disampaikan oleh.Alfian Tanjung.

Satria Awal Nugroho, KetuaUmumPRMKarangkajenmenjelaskan bahwa tujuan dari acara ini yaitu untuk menyadarkan kepada masyarakat akan gerakan komunis dengan gaya baru, seperti tahun 1965 yang mengadu domba ulama dengan nasionalis.

“Gerakan gaya baru yang dimaksud ialah memasukan faham ideologi komunisme melalui seminar-seminar dan kajian-kajian “ilmiah”di kampus,” ucap Satria.

Selain itu, acara inijugasebagai bentuk refleksi sejarah bagitokoh dansesepuh Karangkajen,serta sebagai media pembelajaran secara langsung mengenai sepak terjang PKI dalam memenuhi nafsu kekuasaanya bagi para generasi muda Karangkajen.

“Karena sejarah perjuangan melawan PKI di Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari  Karangkajen pada tahun 1965, di tahun 65 PKI masuk Jogja, basis kekuatan dari RPKAD (sekarang bernama KOPASUS)berada di Karangkajen, dan warga waktu itu diberdayakan untuk membasmi PKI,” ungkapnya.

Alfian Tanjung menegaskanPKI sudah bangkitdengantidak lagi berbicara dan mempengaruhi, tetapi sudah bunuh siapa yang menghalangi. “Saat ini pergerakan komunis sudah berani menampakkan taringnya, tidak lagi menggunakan pembunuhan dan penculikan seperti tahun 1965, melainkan dengan cara halus seperti halnya merangkul kaum-kaum intelek kampus melalu buku atau kajian “ilmiah”,” ungkapnya.

Diakhir Alfian juga mengatakan bahwa pergerakan komunis di Indonesia sudah sangat tertata rapi, mereka sudah menyiapkan ini semua dari jauh-jauh hari, menempatkan beberapa kadernya dalam tatanan negara.

“Umat islam tidak boleh lengah dan gegabah dalam mengambil tindakan, tetap senyap dan waspada,” pungkasnya.

Kontributor: Muhammad Radhi Mafazi

Shared:
Shared:
1