UMY Lahirkan Doktor Psikologi Pendidikan Islam Pertamanya

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 25 April 2012 16:00 WIB

 

Yogyakarta- Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah mempunyai Doktor Psikologi Pendidikan Islam pertamanya. Adalah dr. Sagiran, Sp.B. M.Kes, Mahasiswa Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam Program Pascasarjana UMY yang berhasil mempertahankan desertasinya dengan predikat Sangat Memuaskan dengan judul “Palliative Care di Rumah Sakit Islam dengan Konsep Husnul Khatimah (Hu Care) Pada Pasien Gagal Ginjal”. Staf Pengajar Bagian Anatomi dan Bedah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY ini merupakan calon lulusan pertama program ini sejak dibuka pada tahun 2007.

 

Dipromotori Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. dan Dr. H. Khoiruddin Bashori, M. Si., Sagiran mempertahankan disertasinya tersebut Rabu Pagi (25/4) di Ruang Sidang AR Fahrudin A lantai 5 Kampus Terpadu UMY. Ia juga diuji oleh Prof. dr. H. Moch. Anwar, M.Med. Sc., Sp.OG (K), Prof. Dr. H. Noeng Muhajir, dan Prof. Dr. HM. Noor Rachman Hadjam, SU.. Bertindak sebagai ketua sidang Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P. dan sekretaris sidang Dr.  Muh. Anis, M.A.

 

Dalam disertasinya, anggota Tim Dokter Bedah RSU PKU Muhammadiyah YK dan RS Nur Hidayah Bantul ini merumuskan konsep Husnul Khatimah pada penanganan pasien gagal ginjal kronis yang ia beri nama Hu Care. Konsep ini dilatarbelakangi bahwa pasien yang sudah tidak dapat disembuhkan lagi dan hanya mengandalkan perawatan medis untuk memperpanjang hidupnya juga membutuhkan terapi spiritual-religius terarah supaya pasien mendapati good death, tanpa derita dan putus asa, husnul-khatimah. “Pada kondisi ini, secara psikologis pasien akan mengalami tekanan besar dalam hidupnya, seperti stress. Padahal pasien gagal ginjal misalnya, tetap bisa melakukan kesehariaanya asal secara rutin melakukan cuci darah” jelasnya.

 

Sagiran menjelaskan selama ini, pasien kondisi ini selain dirawat secara medis hanya diberi nasehat untuk sabar dan pasrah menerima takdir secara informal oleh petugas bina rohani. Tidak penanganan secara sistematis bagaimana peran keluarga, handai taulan, kenalan, sahabat, tetangga dekat/jauh. “Hu Care berupaya mengonsep hal ini. Dengan Konsep Hu Care, akan ada penangan yang sistematis bagi pasien. Pasien yang kondisinya stabil, akan diberdayakan menjadi pengurus kelompok swa bantu misalnya. Mereka akan membantu pasien-pasien lain mengatasi kesulitan-kesulitan pengobatan," terangnya.

 

Keluarga yang memiliki perang sangat penting menurut Sagiran dalam hal ini akan terbantu dalam memberi kontribusi perawatan spiritual-religius melalui nasehat, petuah dan doa mereka agar pasien dapat secara positif menghadapi kondisinya. Dalam Hu Care, ditanamkan nilai-nilai yang secara psikologi akan memberikan semangat bagi pasien. “Misalnya penanaman pikiran bahwa meninggal dengan sebab sakit gagal ginjal kronis adalah mulia. Atau misalnya pikiran bahwa seseorang akan dikenang dengan sesuatu yang ditinggalkannya. Dalam keadaan sakit, masih dapat berkarya,  justru bernilai luar biasa," ungkapnya.

 

Selain itu, Sagiran dalam disertasinya juga menekankan bahwa cuci carah merupakan salah satu perawatan yang wajib dijalani pasien gagal ginjal kronis. Menurutnya, beberapa pasien responden penelitiannya mengaku memiliki teman yang menemui ajalnya karena menolak cuci darah dan membawanya ke pengobatan alternatif. “Yang paling fatal adalah, ketika ajal sudah menjemput, sementara pengobatan yang dijalani mengandung unsur kemusyrikan, ini adalah petaka dunia akhirat,” terangnya.

 

Pada akhirnya Sagiran mengatakan,temuan dalam disertasi ini akan direkomendasikan kepada Rumah Sakit Islam, yang selanjutnya pada dataran praktis disusun prosedur dengan penyesuasian pola di masing-masing rumah sakit. “Hu Care dapat dikembangkan di beberapa Rumah Sakit Islam sehingga pada akhirnya memberikan manfaat bagi pasien dalam rangka mempersiapkan kematian Husnul Khatimah” pungkasnya.

Shared:
Shared:
1