Haedar Nashir Buka Simposium Internasional ‘Genre Sosial-Budaya Muslim Tionghoa di Indonesia’

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 10 Mei 2017 15:47 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Rabu (10/5) membuka acara Simposium Internasional yang dihelat oleh Suara Muhammadiyah dengan mengangkat tema ‘Genre Sosial-Budaya Muslim Tionghoa di Indonesia’.

Dalam kesempatan  tersebut Haedar mengatakan sebagai negara yang tumbuh dalam keberagaman suku bangsa, etnis dan agama, masyarakat Indonesia memiliki karakter yang non-komplementer dan tentunya tidak lepas dari konflik-konflik yang terjadi akibat gesekan dan perbedaan yang ada.

Berbagai peristiwa yang terjadi, lanjut Haedar seperti ketegangan yang menimpa etnis Tionghoa kala perhelatan Pilkada DKI sebelumnya menjadi ujian tersendiri bagi kebhinnekaan dan keberagaman Indonesia.

“Keberagaman dan kebhinnekaan memang tidak pernah sekali jadi. Dalam proses yang panjang itu pasti ada berbagai gesekan yang terjadi. Tapi ini positif untuk menjadikan kita bangsa yang bhinneka,” tutut Haedar di Ballroom Hotel Inna Garuda Yogyakarta.

Kembali dilanjutkan Haedar, tidak dapat dielakkan bahwa terdapat proses panjang yang membentuk keberagaman dan kebhinnekaan di tubuh bangsa Indonesia.

“Setiap peristiwa yang ada menguji kedewasaan kita dalam berbangsa. Kalau tidak berhati-hati, maka ketegangan yang terjadi pasca Pilkada DKI seakan memunculkan pertarungan melibatkan agama dan ras yang mengadu satu sama lain dan mengoyak kebhinnekaan,” lanjutnya.

Muhammadiyah sendiri, jelas Haedar telah menekankan bahwa Indonesia sebagai negara pancasila adalah Darul Ahdi wa Syahadah. Di mana dengan tegas mengatakan bahwa pancasila sebagai dasar negara dibentuk atas dasar kesepatakan bersama. Seluruh komponen bangsa memiliki kewajiban dalam mewujudkan cita-cita pendiri bangsa Indonesia yaitu menjadi negara yang maju, berdaulat, adil dan makmur.

Dalam kesempatan tersebut Haedar berpesan agar seluruh komponen bangsa harus merenung dalam memahami keindonesiaan. Ia berharap dengan digelarnya simposium yang mengulas tentang berbagai peran yang dilakukan oleh etnis Tionghoa khususnya Muslim Tionghoa, akan mampu mengasah kematangan kita dalam berbangsa. (adam)

Shared:
Shared:
1