Haedar: Jangan Sebarkan Virus Kecemasan yang Berlebihan dalam Mengkonstruksi Kegawatan Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 08 Mei 2017 09:45 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Waham atau apa yang ada di pikiran itu sering membentuk keadaan. Sesuatu yang ringan tetapi dianggap berat akhirnya terasa berat. Ketika keadaan normal kita bilang abnormal, suasananya menjadi terasa di lura kewajaran. Masalah sedikit ketika kita anggap besar, benar-benar terasa besar. Maka, betapa penting menata atau mengkonstruksi pikiran agar tetap positif.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan akhir-akhir ini usai Pilkada DKI yang berjalan demokratis dan damai, masih juga dikembangkan pikiran atau pendapat-pendapat yang terasa gawat atau digawat-gawatkan. Kemenangan Anies-Sandi dianggap merebaknya radikalisme agama, intoleransi,  dan ancaman terhadap kebhinekaan. Malah dianggap mekarnya politik primordialisme atau SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

“Hal senada, dalam bentuk lain, Ahok-Djarot yang kalah secara demokratis dan keduanya sebenarnya sudah mengucapkan selamat kepada pemenang, digambarkan mewakili kebhinekaan, toleransi, moderat, dan rasionalitas. Maka ketika pasangan ini kalah, lalu muncul pandangan alarm atas keindonesiaan,” ucap Haedar, Senin (8/5).

Selain itu,  lanjut Haedar ada yang berpandangan adanya ancaman terhadap NKRI, karena ada gerakan kelompok Islam radikal maka dimungkinkan akan muncul reaksi balik dari kawasan Papua, NTT, dan lainnya. Lalu dimunculkan istilah kawan setia dan paling mendukung NKRI. Sebaliknya, tentu saja ada yang dianggap kurang atau tidak setia, serta tidak pro-NKRI.

Pikiran dan pandangan yang mengesankan situasi gawat  seperti itu justru dapat berpotensi menciptakan psikologi kegawatan dalam berbangsa dan bernegara saat ini.

“Jika pendalat-pendapat negatif seperti ini terus diproduksi, boleh jadi malah akan terjadi saling berhadapan atau dihadap-hadapkan antar dua pihak warga bangsa yang berbeda. Mayoritas versus minoritas. Pemeluk agama satu dengan peneluk agama lain. Antara satu etnik dengan etnik lain. Antara kelompok radikal satu dengan radikal lain,” ungkap Haedar.

Haedar menegaskan, mau sampai kapan? Kita sadar terdapat sejumlah masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk masalah hubungan antar kelompok agama, etnik, kedaerahan, dan golongan dalam kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk.

“Ketika ada titik pemicu kadang muncul gesekan. Ditambah dengan kontestasi politik biasanya memunculkan gesekan keoentingan antarkelompok yang bertensi tinggi. Faktor agama juga sering bersenyawa dalam konflik kepentingan itu,” ucap Haedar.

Namun jika berpikir lebih jernih dan objektif, permasalahan yang berkembang masih bisa diatasi dan terus didialogkan untuk dicarikan solusi. “Pilkada DKI memang ada masalah yang berkaitan dengan relasi politik dengan sentimen agama dan etnik, tetapi faktornya tidak determinan dan satu-satunya. Masalah lain ikut memicu seperti faktor personalitas, kesenjangan sosial, dan lain-lain,” ucap Haedar.

Karenanya setiap ada peristiwa, kajilah secara seksama dan komprehensif agar tidak linier dan melahirkan pandangan dangkal. Lalu di sana terjadi politisasi dalam beragam bentuk, termasuk dramatisasi situasi. Dramatisasi itulah yang sering memicu masalah baru dan memperluas masalah, yang menimbulkan kepanikan maupun kesan suasana gawat, yang tidak sepenuhnya menggambarkan keadaan yang faktual atau apa adanya.

Maka, lanjut Haedar hendaknya perlu dihentikan pikiran-pikiran yang cenderung menggawatkan atau mendramatisasi keadaan disertai pandangan yang ekstrem, provokatif, dan berlebihan. Kembalilah ke pandangan yang moderat, objektif, dan mengirim pesan damai serta positif. Masalah yang dihadapi dapat dikaji secara seksama dan dicarikan solusi bersama dalam suasana yang lebih normal.

“Bangsa ini telah melawati banyak rintangan dan masalah besar, sehingga memiliki modal sosial yang relatif mencukupi untuk melewati masalah-masalah baru. Masalah harus dihadapi, tetapi jangan termakan situasi. Jangan sebarkan virus kecemasan dan kewaspadaan yang berlebihan, yang menciptakan psikologi kegawatan melebihi kemestian. Di sinilah pentingnya kedewasaan, kearifan, kejujuran, dan kecerdasan para pemimpin negeri,” tutupnya. (adam)

 

Shared:
Shared:
1