Haedar: Kemajemukan di DKI Jakarta Tidak Boleh Lepas dari Nilai-Nilai Agama

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 06 Mei 2017 07:28 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – DKI Jakarta dan Indonesia sesungguhnya dibangun oleh masyarakat Indonesia yang karakter utamanya adalah relijius. Proses tersebut terbentuk sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu sehingga bangsa ini merdeka.

Hal itu disampaikan Haedar dalam pengajian bulanan PP Muhammadiyah dengan tema DKI Jakarta yang Religius dan Berkemajuan yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jalan Menteng Raya 62 Jakarta, Jumat (5/5) malam.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa beragama dan religius, menginkari ini dalam bentuk apapun sama saja dengan mengingkari keindonesiaan,” ucap Haedar.

Proses perjalanan kehidupan kebangsaan yang semakin liberal telah memasuki era modernisasi dan berbagai macam hal, kemudian terjadi proses sekularisasi kehidupan, termasuk dalam kehidupan kebangsaan, maka muncul arus baru dalam kehidupan kebangsaan saat ini yang mencoba melakukan sekularisasi dan liberalisasi.

“Nah, dalam proses ini maka muncul konsep demokrasi liberal, lama kelamaan agama dianggap sebagai ranah asing. Muncul konsepsi baru tentang agama, agama sebagai sumber konflik, sebagai sumber terorisme, sebagai sumber radikalisme, semakin gencar pandangan bahwa agama hanya urusan premordial dan privat, padahal sejatinya Indonesia tidak bisa lepas dari agama,” tegasnya.

Dikaitkan dengan kondisi saat ini maka tidak heran jika ada sebagian pejabat yang salah faham atau salah pandangan bahkan gagal faham, bahwa agama tidak boleh masuk kepada urusan politik dan negara, ini konsep sekularisasi. Akan tetapi, menurut Haedar juga ada sebaliknya, konsep integralisme, bahwa negara harus bersenyawa dengan agama, yang menunjukkan negera agama dalam berbagai macam golongan.

“Inilah yang dihadapi oleh kita termasuk Muhammadiyah, sehingga dalam Muktamar yang lalu mengeluarkan sebuah konsep mendasar bagi Muhammadiyah dengan pandangan islam yang diyakini, dengan proses sejarah yang difahami, sampai pada kesimpulan bahwa Indonesia adalah Daarul ahdi wa syahaadah,” tegas Haedar.

Indonesia yang berdasar pancasila dan seluruh kerangka konstitusi yang dibangun adalah negara hasil konsensus bersama. Sekali berkonsensus maka tidak boleh keluar dari konsessus itu, termasuk setelah menetapkan Indonesia berdasar pancasila, menurut Haedar pancasila sejalan dengan agama maka harus komitmen dengannya.

Tidak cukup hanya disitu, negara pancasila juga harus berkemajuan dan dibangun menjadi baldatun toyibatun warobbun gofur.

“Sehingga negera ini menjadi negara yang berkemajuan tetapi berdiri tegak diatas nilai-nilai fundamental yang sumbernya dua, yakni pancasila sebagai dasar negara dan agama sebagai sumber nilai kehidupan bangsa Indonesia,” tutur Haedar.

Maka Haedar yakin DKI yang religius juga sama, berdiri diatas keduanya. Ketika DKI Jakarta sebagai bentuk megapolitan, maka kemodernan, kemajemukan dan kemajuan DKI Jakarta tidak boleh lepas dari nilai-nilai agama. (raipan)

Shared:
Shared:
1