MPM Ubah Paradigma Pemulung dari Trouble Maker Menjadi Pahlawan Lingkungan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 04 Mei 2017 12:39 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Muhammadiyah melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) selalu menggunakan cara-cara yang manusiawi dan menggembirakan dalam berdakwah. Hal tersebut sesuai dengan visi Muhammadiyah sejak awal kelahirannya.

Ketua MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Nurul Yamin mengatakan, pemberdayaan yang dilakukan oleh MPM salah satunya yaitu mengarah pemberdayaan kepada pemulung. Pemulung menurut Yamin kerap dianggap sebagai trouble maker.

Padahal, kerja keras mereka sangat berarti sebagai tulang punggung keluarga hingga pahlawan lingkungan. “Pergeseran paradigma pemulung dari trouble maker menjadi Pahlawan Lingkungan perlu disosialisasikan kepada seluruh stakeholder maupun masyarakat luas,” terang Yamin.

Pemberdayaan pemulung, lanjut Yamin harus mengarah pada semua aspek, mencakup sosial, ekonomi, kesehatan, lingkungan dan lainnya. Guna mewujudkan pemberdayaan yang konprehensif, MPM bekerjasama dengan Lazismu dan berbagai stakeholder mengadakan workshop Pemberdayaan Komunitas Pemulung pada Kamis (4/5) bertempat di Aula Gedung Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI DIY.

Yamin mengakui bahwa persoalan pemulung merupakan hal yang komplek dan bersinggungan dengan berbagai instansi. Menyadari hal itu, MPM melakukan pemberdayaan secara pelan-pelan dan melibatkan berbagai pihak.

“Guna melakukan rembuk bersama, semua pihak terkait, baik pemerintah, perguruan tinggi, pelaku ekonomi, hingga aktivis lingkungan (Walhi) diundang dalam kegiatan workshop ini,” ujar Yamin.

Sementara itu, Koordinator Divisi Komunitas Khusus MPM PP Muhammadiyah, Wuri Rohmawati menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki urgensi penting. Pertama, guna menemukan strategi yang tepat untuk membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kedua, menemukan kegitan yang dapat membantu para pemulung dalam peningkatan keterampilan sehingga dapat memberikan alternatif pendapatan lain bagi pemulung.

Ketiga, advokasi kebijakan yang berpihak pada pemulung dan masyarakat sekitar TPST. Keempat, menemukan Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna yang dapat diimplementasikan di TPST Piyungan.

“Harapannya hasil dari kegiatan ini nantinya akan digunakan menjadi bahan penyusunan blue print pemberdayaan pemulung, khususnya di TPST Piyungan, yang sudah didampingi sejak Maret 2015,” terang Wuri.

Sebagai narasumber dalam workshop tersebut diantaranya, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana BAPPEDA DIY Munarta, Mewakili MPM PP Muhammadiyah, Ahmad Maruf, Arief Budiman dari Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. (adam)

Shared:
Shared:
1