Bertemu Ketum Nadhlatul Wathan, Haedar Bahas Masalah Keumatan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 02 Mei 2017 13:13 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MATARAM - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir didampingi Bendahara Pimpinan Pusat Muhammadiyah Marpuji Ali kembali melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Wathan (PBNW) yang sekaligus Gubernur Nusat Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi.

Dalam pertemuan yang digelar di Pendopo Gubernur NTB pada Ahad (30/4) Haedar menyampaikan bahwa kondisi bangsa Indonesia dalam enam bulan terakhir tidak dipungkiri membawa situasi yang kurang nyaman serta membuang banyak energi.

“Energi umat yang sangat besar yang dibuktikan dalam beberapa aksi beberapa waktu lalu, hendaknya bisa mengarah kepada hal-hal yang nyata bisa mendukung kemajuan Indonesia,” kata Haedar.

Haedar juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan umat dan berkonstribusi nyata untuk bangsa. “Muhammadiyah seperti halnya NU dan NW, juga sudah menetapkan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Dar al-Ahdi Wa al-Syahadah, yakni tempat untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa,” kata Haedar.

Salah satu kekuatan energi tersebut menurut Haedar dapat bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang besar untuk berkonstribusi pada aspek pemberdayaan ekonomi umat.

“Lumrah dimaklumi, meskipun menjadi mayoritas dalam segi jumlah massa, namun kekuatan ekonomi umat Islam masih belum solid dan kuat,” ucapnya.

Tuan Guru Bajang (TGB) menyampaikan berbagai pandangan dan masukannya terhadap penanganan sejumlah permasalahan bangsa dan keumatan yang terjadi belakangan ini. “Marilah kita saling mengingatkan untuk kembali pada komitmen kebangsaan,” tuturnya.

Dalam pertemuan itu, pimpinan Muhammadiyah dan Nahdlatul Wathan sepakat untuk menyuarakan ajaran Islam yang moderat dan menampilkan wajah rahmatan lil alamin. Wajah Islam itu sebagaimana diajarkan serta dikembangkan oleh organisasi-organisasi seperti Muhammadiyah, NU, NW, Persis selama ini, bahkan sejak Indonesia belum merdeka. “Yakni, pandangan Islam yang moderat yang mengedepankan aspek persuasif serta mengajak kepada kebaikan bersama,” kata TGB Zainul Majdi. (adam)

 

Shared:
Shared:
1