Pasca Pilkada DKI, Haedar: Warga Persyarikatan Harus Santun dan Giat Bekerja

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 27 April 2017 11:54 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Pilkada DKI Jakarta 2017 yang menghasilkan suara rakyat untuk Anies dan Sandi secara demokratis perlu diterima semua pihak dengan lapang hati. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, sambil menunggu pengumuman resmi KPU, semua perlu menutup buku kompetisi politik yang semoat memanas.

"Kedepankan jiwa kenegarawanan. Kedua pasangan calon telah menunjukkan sikap sportifitas yang baik. Pasangan Ahok-Djarot juga telah mengucapkan selamat dan akan menyelsaikan urusan pemerintahan dengan sebaik-baiknya," ungkap Haedar.

Haedar berpesan agar rakyat DKI khususnya dan warga bangsa Indonesia umumnya perlu berlapang hati dalam menyikapi hasil Pilkada itu dengan sikap kesatria. "Mereka yang menang bersyukur kepada Allah SWT dan menunjukkan sikap yang bijak, tidak perlu jemawa. Mereka yang kalah pun legawa dan menunjukkan sikap sportif seperti pemimpinnya. Dengan demikian semuanya kembali hidup bersama secara rukun dan saling bekerjasama untuk kemajuan DKI dan Indonesia," tutur Haedar, Kamis (27/4).

Karenanya, semua elemen masyarakat, termasuk di kalangam warga Persyarikatan, tidak perlu mereproduksi ujaran, isu, dan tulisan yang tidak membawa suasana kondusif untuk normalisasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal-hal kurang baik dari siapapun yang sudah berlalu dalam proses kontestasi  Pilkada menjadi pelajaran semua pihak untuk ke depan, tidak perlu terus didaur-ulang.

"Melalui WA atau media sosial dan media apapun sebaiknya kedepankan ujaran, pernyataan, dan sikap yang menyebarkan pesan-pesan kebaikan. Kalaupun diperlukan menyuarakan nahyu munkar sampaikan dengan ujaran dan cara yang ma'ruf. Hujatan, kafir mengkafirkan, dan sebutan-sebutan lain yang bernada cemoohan kepada pihak manapun sebaiknya dihentikan," pesan Haedar.

Kalimah layinah atau lemah-lembut merupakan kekayaan ruhani dan akhlaq utama Muslim sebagai wujud ihsan kepada sesama. "Tunjukkan bahwa umat Islam dan warga Muhammadiyah itu santun, bijak, pemaaf, dan cerdas sebagai aktualisasi berakhlak mulia kepada sesama. Termasuk  terhadap mereka yang berbeda agama, golongan, dan pandangan. Energi kebajikan akan memantulkan kebajikan kepada diri kita dan lingkungan semesta," imbuh Haedar.

Lebih dari itu, Haedar mengajak semua pihak untuk melangkah ke depan dengan giat bekerja untuk kemajuan umat dan bangsa. "Umat Islam dan warga Muhammadiyah memiliki banyak pekerjaan rumah dan agenda-agenda penting yang harus ditunaikan. Meningkatkan kualitas sumberdaya insani, kualitas pendidikan, kemandirian ekonomi, pengentasan kemiskinan dan kaum dhuafa, penguatan politik kolektif, dan agenda strategis maupun praksis lainnya terentang di depan. Bekerja itu lebih sulit ketimbang bicara, sehingga Muhammadiyah memiliki tradisi luhur sedikit bicara banyak bekerja," terang Haedar.

Diakhir, Haedar menyampaikan segenap anggota dan pimpinan Persyarikatan dari Pusat hingga PWM, PDM, PCM, PRM, Ortom, Amal Usaha, dan semua elemen di dalamnya terus bergerak memajukan Muhammadiyah menuju kualitas berkeunggulan. Peran keumatan dan kemasyarakatan yang membawa moral pencerahan digelorakan di setiap lingkungan, sehingga kehadiran Muhammadiyah benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.

"Buktikan bahwa Muhammadiyah itu rahmatan lil-'alamin sebagaimana misi kerisalahan Nabi Muhammad SAW, serta telah dipelopori Kyai Haji Ahmad Dahlan di masa awal pergerakan!," tutup Haedar. (adam)

Shared:
Shared:
1