Sebelum Klinik Apung, Muhammadiyah Sudah Punya Sekolah Apung, Bagaimana Wujudnya?

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 18 April 2017 15:14 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, WAKATOBI – Gerak Muhammadiyah dalam membangun peradaban semakin nyata. Pada Tanwir Muhammadiyah di Ambon lalu, Muhammadiyah telah meluncurkan Klinik Apung Said Tuhuleley, yang diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo. Namun, jauh sebelum adanya Klinik Apung tersebut, banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa Muhammadiyah telah memiliki dua sekolah Muhammadiyah Terapung, yang terletak di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kedua sekolah itu ialah SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi dan SMA Muhammadiyah 2 Wakatobi. SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi terletak di Kelurahan Wandoka, Kecamatan Wangi-Wangi. Kecamatan Wangi-Wangi sendiri merupakan Ibu Kota Kabupaten Wakatobi. Sedangkan SMA Muhammadiyah 2 Wakatobi terletak di Kecamatan Kaledupa, tepatnya di Perkampungan Suku Bajo. Bajo terkenal sebagai orang laut. Mereka tidak tinggal di daratan, melainkan di atas laut. Sebutan mereka kepada orang selain Bajo adalah orang darat.

SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi pada awalnya terletak di daratan. Sekolah yang telah berdiri sejak tahun 2012 tersebut awalnya sepi peminat. Karena banyak anak-anak dari wilayah tersebut yang tidak mau sekolah. Alasanya, seperti dijelaskan Surni, salah satu pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wakatobi karena banyak anak Suku Bajo yang kerap diganggu oleh siswa dari darat.

Selain alasan kerap diganggu siswa dari darat, terdapat pula kebiasaan suku Bajo yang tidak bisa lepas dari kehidupan di laut. “Ada kebiasaan di Suku Bajo tidak mau hidup di darat, maka itu anak-anak Suku Bajo banyak yang tidak mau sekolah,” ujar Surni, ketika dihubungi redaksi Muhammadiyah.or.id, Selasa (18/4).

Mencari solusi dari permasalahan tersebut, akhirnya PDM Wakatobi bersama dengan Pemerintah Daerah Wakatobi sepakat untuk memindahkan SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi pada tahun 2013 ke Desa Mola Nelayan Bakti,  salah satu desa yang berada di atas laut. Untuk mobilisasi dari satu tempat ke tempat lainnya, anak-anak menggunakan perahu dan rakit. 

Setelah dipindah, respon masyarakat khususnya dari Suku Bajo sangat tinggi terhadap SMA Muhammadiyah Wakatobi. Puluhan siswa berbondong-bondong mendaftar di SMA Muhammadiyah Wakatobi. Hingga saat ini terdapat 115 siswa dan 18 orang guru yang mengabdi di SMA Muhammadiyah Wakatobi.

“Masyarakat Suku Bajo juga sangat senang dengan keberadaan sekolah Muhammadiyah ini, berbondong-bondong mereka menyekolahkan anaknya di SMA Muhammadiyah Wakatobi. Ini semua tak lepas dari pejuang-pejuang Muhammadiyah Wakatobi untuk mendekati masyarakat,” terang Ali Hasan, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi.

Di SMA Muhammadiyah Wakatobi anak-anak tidak hanya diajarkan mengenai ilmu umum dan agama, tapi juga belajar tentang ilmu kelautan. “Kita mengajarkan anak-anak pentingnya memelihara laut, bagaimana menghargai laut, dan juga memanfaatkan sumber daya laut,” ujar Ali.

Namun, saat ini SMA Muhammadiyah Wakatobi baru memiliki satu jurusan, yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). “Untuk itu kami dari pihak sekolah akan berupaya menambah jurusan baru, yaitu jurusan IPA,” terang Ali.

Selain itu, Ali juga mengatakan banyak harapan dari Suku Bajo terhadap perkembangan fasilitas SMA Muhammadiyah Wakatobi. “Upaya peningkatan fasilitas sekolah, baik dalam bentuk ruang kelas, sarana dan prasarana akan terus kami tingkatkan, Dengan itu kami berharap kepada semua pihak untuk dapat turut berkontribusi membangun pendidikan yang layak bagi masyarakat Suku Bajo,” harapnya. (adam)

Shared:
Shared:
1