MQ-1 Predator, "Malaikat Maut" Tanpa Awak Milik AS

Author : Administrator | Selasa, 29 Maret 2016 10:01 WIB
Penampakan Drone Predator dari depan (Foto: The Aviationist)
Penampakan Drone Predator dari depan (Foto: The Aviationist)

 

DRONE, atau pesawat tanpa awak yang dikendalikan operator, hampir dimiliki oleh semua negara. Amerika Serikat (AS) pun memiliki satu drone andalan yang hingga kini digunakan untuk berbagai operasi militer di berbagai negara, khususnya di wilayah Timur Tengah. Drone tersebut bernama MQ-1 Predator.

Drone MQ-1 Predator dibuat oleh perusahaan General Atomics. Pesawat tanpa awak ini terutama digunakan untuk operasi Angkatan Udara AS serta Badan Intelijen Pusat AS (CIA).

MQ-1 yang dibuat pada 1990-an awalnya digunakan untuk misi pengintaian dan observasi. Sebab, drone ini didesain dengan berbagai kamera dan sensor pada rangkanya namun sudah dimodifikasi sedemikiran rupa hingga membawa misil dan menjadikannya “malaikat maut” pasca-tragedi 9/11.

Pesawat tanpa awak ini menjadi “malaikat maut” dari Negeri Paman Sam ketika melancarkan beragam operasi karena kerap warga sipil juga menjadi korbannya.  MQ-1 sejak 1995 telah menjadi bagian dari militer AS yang beroperasi di langit Afghanistan, Pakistan, Bosnia, Serbia, Irak, Yaman, Libya, Suriah, dan Somalia.

Pada awal 1980, CIA dan Pentagon mulai melakukan pengembangan pesawat tanpa awak yang digunakan untuk misi pengintaian. Namun barulah pada Januari 1994, General Atomics Aeronautical System (GA) mendapat kontrak untuk membuat drone bernama Predator.

GA berhasil menciptakan semacam purwarupa yang memiliki nama Advanced Concept Technology Demonstration (ACTD). Kemudian pihak militer AS membelinya untuk menjalankan berbagai tes. Pada April hingga Mei 2015, drone Predator ACTD mengikuti operasi percobaan di sekitar wilayah AS.

Dikarenakan militer Negeri Paman Sam menilai percobaan ini berhasil, drone Predator generasi awal ini digunakan di wilayah Balkan pada musim panas 1995. Pengoperasian Predator ACTD dilakukan oleh tim gabungan dari Angkatan Darat (AD) serta Angkatan Laut (AL) AS yang berada di bawah pengawasan Navy Joint Program Office for Unmanned Aerial Vehicles (program bersama AL untuk kendaraan tanpa awak).

Sejak 2001, ACTD kembali dikembangkan dan didesain ulang sehingga memiliki nama dan bentuk baru yaitu RQ-1 Predator yang digunakan khusus untuk operasi pengintaian. Namun pada 2002-lah MQ-1 lahir secara resmi ketika AU AS mulai mempersenjatai drone Predator untuk melakukan berbagai operasi.

Saat tahap percobaan, drone ini dites menggunakan misil jenis antitank Hellfire dan karena dianggap berhasil. AU mulai memasangkan berbagai misil jenis Hellfire untuk memastikan yang mana paling cocok untuk melaksanakan operasi penyerangan. Akhirnya, AU Negeri Paman Sam memilih mendampingkan “sang malaikat maut” ini dengan misil Helfire AGM-114K yang dianggap memiliki tingkat presisi yang tinggi.

Selain misil, fitur utama dari drone Predator adalah kamera, sensor serta laser yang dikontrol menggunakan satelit sehingga langsung memperlihatkan medan lokasi target. Berbagai fitur ini juga berguna untuk operator mengontrol gerakan drone serta sangat berguna untuk melakukan misi pengintaian.

Namun, terdapat kontroversial dalam penggunaan drone Predator, karena berbeda dengan senjata konvensional yang langsung dikendalikan oleh manusia yang melihat langsung, banyak yang menganggap penggunaan senjata tanpa awak ini dianggap seperti ‘seorang anak yang bermain video games’.

Akibat operator dari pesawat tanpa awak ini hanya melihat target dari layar kaca, tanpa melihat langsung di lokasi target ada atau tidaknya warga sipil, banyak asumsi penggunaan pesawat tanpa awak pada operasi militer dianggap kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Terlepas dari kontroversialnya, beberapa negara masih menganggap penggunaan MQ-1 Predator cukup efektif. Lalu di luar dari harganya yang mahal, penggunaan pesawat tanpa awak ini diasumsikan mengurangi jumlah korban jiwa dari tentara. Harga per unit dari MQ-1 Predator ini cukup “wah” untuk sebuah senjata konvensional, yaitu USD4,03 juta atau sekira Rp53.518.400.000.

Harga puluhan miliar ini belum termasuk dari biaya senjata utama dari drone ini yaitu misil Hellfire-nya. Satu misil dari AGM-114 Hellfire juga memiliki harga yang mencengangkan yaitu dibanderol USD110 ribu atau sekira Rp1.460.800.000. Jadi, bisa dibayangkan untuk sekali operasi militer saja dengan menggunakan MQ-1 Predator dapat menghabiskan hingga miliaran rupiah dengan asumsi tidak hanya satu misil Hellfire yang digunakan.

Berikut ini spesifikasi singkat mengenai drone MQ-1B Predator (varian yang beroperasi hingga saat ini dan digunakan sejumlah negara):

  • Panjang: 8,22 meter.
  • Lebar Sayap: 14,8 meter.
  • Tinggi: 2,1 meter.
  • Berat: 512 kilogram (kosong) 1.020 kilogram (berisi misil).
  • Mesin: Rotax 914F mesin empat silinder turbocharged.
  • Kecepatan maksimum: 217 kilometer/jam.
  • Jarak tempuh: 1.100 kilometer.
  • Daya tahan satu kali operasi: 24 jam.
  • Ketinggian maksimum di udara: 7.620 meter dari tanah.
  • Senjata: 2 AGM-114 Hellfire (utama) dan 4 AIM-92 Stinger (tambahan).
  • Negara yang mengoperasikan drone ini: AS, Uni Emirat Arab, Italia, Turki, Maroko.

 


Sumber: http://news.okezone.com/internasional
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1