Indonesia Berperan Besar dalam Kemerdekaan Aljazair

Author : Administrator | Selasa, 04 Juni 2013 10:10 WIB
Peta Aljazair | lonelyplanet.com

 

ALGIERS, KOMPAS.com — Indonesia memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Aljazair. Salah satu bentuk peran penting Indonesia itu adalah ketika Pemerintah Indonesia mengundang delegasi dari Aljazair untuk berpartisipasi dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Aljazair meraih kemerdekaan dari Perancis tahun 1962.

Peran penting Indonesia itu diungkap dalam forum seminar internasional yang digelar Kedutaan Besar RI untuk Aljazair di Gedung Arsip Nasional Aljazair pada Minggu (2/6/2013) dalam rangka peringatan 50 tahun hubungan Indonesia-Aljazair.

Dubes pertama Aljazair untuk Indonesia, Demanglatrus, dalam forum seminar itu menegaskan, peran Indonesia dalam revolusi kemerdekaan sangat besar. Salah satunya dengan upaya pemerintah saat itu, di bawah kepemimpinan Bung Karno, mengundang delegasi dari Aljazair untuk ikut dalam Konfrensi Asia Afrika di Bandung.

 

Demanglatrus juga mengakui peran tokoh-tokoh Indonesia dalam masa revolusi Aljazair sampai merdeka, hingga mengirim dirinya sebagai dubes pertama Aljazair di Indonesia.

Dubes RI untuk Aljazair Ni'am Salim dalam sambutannya berharap kedua bangsa membuat paradigma baru dalam menjaga dan mengawal hubungan yang sudah berumur 50 tahun ini. Paradigma itu adalah kerangka diplomatik yang tidak sekadar berbasis pada kebutuhan pragmatis, tetapi juga mengikat diri pada visi yang menjangkau masa depan. Visi itu, misalnya, menciptakan iklim internasional yang lebih menyejahterakan, damai, dan berkeadilan.

Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Febrian A Ruddyard, yang juga menjadi pembicara dalam acara seminar itu, menginginkan kedua bangsa semakin progresif dalam menciptakan hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Febrian juga menyinggung perlunya penguatan soft diplomacy antarkedua negara dengan pelibatan maksimal unsur masyarakat. Sebab, jika hanya mengandalkan negara, hal itu akan membutuhkan waktu yang lama dan panjang. "Maka, people to people diplomacy harus digalakkan. Negara tinggal mengawal dan meng-encourage saja," ujarnya.

Sementara itu, Presiden ICIS KH Hasyim Muzadi dalam paparannya menyingung perlunya peran organisasi sosial kemasyarakatan yang kuat dalam membantu memperkuat hubungan kedua bangsa agar lebih terasa di masyarakat. Sebab, hubungan yang hanya mengandalkan negara dan pemerintah akan membutuhkan waktu yang panjang.

"Selain dagang dan ekonomi, perlu kiranya hubungan antarmasyarakat atau ormas-ormas sosial keagamaan juga dibangun. Untuk konteks Indonesia, NU siap membantu memperkuat hubungan ini," katanya.

 

 

sumber : kompas.com

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1