Zawawi Imron: Keragaman Budaya Lahirkan Kreativitas

Author : Humas | Rabu, 06 Mei 2015 15:11 WIB
Zawawi Imron (kiri) dan Muhammad Hayat, MA (kanan) memberikan materi betapa pentingnya menjaga budaya Indonesia, Rabu (6/5).

“JANGAN tanyakan apa yang diberi oleh Indonesia, tapi apa yang sudah kamu beri untuk Indonesia!” Kalimat ini terlontar dari budayawan Indonesia, Zawawi Imron pada acara Sarasehan Kebudayaan Nusantara yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (6/5).

      Menurut Zawawi, kebudayaan adalah sesuatu yang kecil, namun berdampak besar pada kehidupan manusia. “Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah ingin mengembangkan keberagaman, bukan perbedaan. Keberagaman dan perbedaan memang beda tipis. Tapi keberagaman tidak melihat persoalan, sedangkan perbedaan itu menjadi persoalan,” katanya pada kegiatan yang berlangsung di ruang teater UMM Dome ini.

      Baginya, perbedaan harus menjadi identitas diri untuk menciptakan energi positif. Zawawi menilai, energi positif dapat melahirkan kerja-kerja kreatif yang dapat dihargai oleh bangsa. “Seorang lulusan SD bisa dihargai oleh bangsa karena menemukan sesuatu yang berguna untuk masyarakat. Itu semua karena energi positif yang dibangun oleh diri sendiri,” tutur Zawawi.

      Untuk menghidupkan suasana, Zawawi tak lupa menggunakan kata-kata puitis dan jenaka dalam menyampaikan materinya di hadapan lebih dari 300 peserta itu. “Kamu tahu bedanya garuda dengan kamu? Kalau garuda itu di dadaku, kalau kamu di hatiku,” ujarnya disambut tepuk tangan dan tawa peserta.

      Sebelum mengakhiri materinya, ia juga sempat menyanyikan puisi karangannya berjudul “Puisi ini Koruptor”. Dengan energik, Zawawi melantunkan puisi bernada kritis terhadap para koruptor dengan gaya anak muda masa kini. Riuh tepuk tangan selalu terdengar sejak awal ia bernyanyi hingga akhir.

      Sarasehan Kebudayaan Nusantara ini merupakan bagian dari rangkaian Parade Budaya Nusantara (PBN) yang digelar BEM UMM. Tak hanya Zawawi Imron, sarasehan juga menghadirkan sosiolog Indonesia Muhammad Hayat MA yang juga merupakan Ketua Jurusan Sosiologi UMM. Presiden Mahasiswa UMM, Elgi Zulfakar Diniy juga turut menjadi pembicara di kegiatan ini.

      Selain sarasehan, PBN menyuguhkan pawai budaya yang diikuti 17 organisasi daerah (orda) di Malang. Orda yang berpartisipasi berasal dari berbagai daerah di pelosok tanah air, di antaranya dari Aceh, Kalimantan Barat, dan daerah-daerah lainnya. Pawai budaya akan dimulai dari Sengkaling Food Festival (SFF) hingga Helipad UMM. Acara kemudian ditutup pada Malam Penganugerahan, dengan menampilkan atraksi budaya dari seluruh orda yang berpartisipasi di PBN. (zul/han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image