Zakiyuddin Baidhawy: Dosen AIK Juga Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

Author : Humas | Sabtu, 10 November 2018 17:29 WIB
GURU BESAR IAIN Salatiga, Zakiyuddin Baidhawy bertandang ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka mengisi kuliah tamu untuk dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Sabtu (10/11). Gelaran ini bertemakan "Rekonstruksi AIK Sebagai Pendidikan Nilai". Dalam penyampaiannya, Direktur Pascasarjana IAIN Salatiga itu menekankan agar para dosen AIK mengikuti perkembangan zaman yang membawa tatanan baru. 
 
Editor In Chief Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) ini juga mengatakan, untuk bisa menyesuaikan dengan pendidikan masa kini, seorang pendidik juga harus bisa memanfaatkan skill digital agar tidak terdisrupsi tatanan baru. "Google kapan lalu membuka lowongan kerja yang tidak memandang ijazah sebagai syarat. Maka secara tidak langsung Google mendisrupsi perguruan tinggi di seluruh dunia," jelas Zakiyuddin.
 
Hadirnya revolusi industri 4.0, menurutnya, mengacak-acak tatanan lama dan menggantinya dengan tatanan baru. Ia mencontohkan perusahaan taksi di zaman sekarang (taksi online), yang meskipun tidak memiliki satu armada pun tetap bisa menjalankan usahanya. Demikian akhirnya perusahaan taksi konvensional kalah saing. "Di zaman sekarang itu harus mempunyai data benar dan rapi agar kebijakan yang dibuat bisa tepat sasaran," papar Zakiyuddin.
 
Ia lantas mengajak peserta kuliah tamu untuk iuga mengambil pelajaran dari Indomaret dan Alfamart dalam meriset wilayah untuk didirikan outlete-nya. "Mereka itu meriset kebutuhan wilayah sampai memang pantas didirikan outlet di sana. Seandainya Alfamart sudah buka, disusul Indomaret. Nah, Indomaret tidak usah riset lagi karena sudah percaya hasil riset Alfamart. Seperti itu kekuatan data," lanjutnya.
 
Zakiyuddin menjelaskan bahwa di era sekarang tidak cukup hanya menghafal Al-Quran dan Hadits. Seorang pendidik juga musti membekali dirinya dengan banyak data. "Karena kalau hafal Ayat dan Hadits ya buat apa kalau tidak punya data? Kan jadi gak tepat sasaran. Jadi kita harus punya data yang banyak agar bisa dakwah dengan tepat sasaran," pungkasnya. (usa/can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image