UMM Pilih Dialog Bersama Aktivis Kampus, Menimbang Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018

Author : Humas | Senin, 26 November 2018 09:04 WIB
Ketua Forum Wakil Rektor bidang Akademik dan Alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah (PTMA) se-Indonesia yang juga Wakil Rektor III UMM, Sidik Sunaryo. (Foto: Aan/Humas)

SEJAK diresmikan sehari setelah peringatan 90 tahun Sumpah Pemuda, Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) nomor 55 tahun 2018, bergulir menjadi isu hangat di antara para aktivis kampus. Dikutip dari siaran pers yang diluncukan oleh Ristekdikti, peraturan ini dibuat atas keresahan paparan radikalisme yang diduga telah menjangkiti sebagian mahasiswa. Sebagai agent of change, tentu mahasiswa mengemban tugas mulia untuk terus berpikir dan berjuang membentuk sebuah perubahan.

Alih-alih membuat perubahan pada arah yang positif, kabar yang menyatakan bahwa sejumlah perguruan tinggi tempat mahasiswa bernaung telah terindikasi paham radikalisme, justru membawa tagline tersebut bemakna negatif. Sebagai salah satu amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki pandangan tersendiri tentang bagaimana ideologi bangsa pada diri mahasiswa harus dibentuk, dibangun, dan dikawal. 

Bersama Ketua Forum Wakil Rektor bidang Akademik dan Alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah (PTMA) se-Indonesia yang juga Wakil Rektor III UMM, Sidik Sunaryo, reporter Humas dan Protokoler UMM, Rochmatika Nur Anisa, melakukan wawancara secara eksklusif.

Sebagai bagian dari Muhammadiyah, bagaimana sikap UMM dalam menyikapi Permenristekdikti nomor 55 tahun 2018 ini?

Berbicara tentang ideologi UMM tidak bisa lepas dari Muhammadiyah. Sebagai  kampus Muhammadiyah yang inklusif, UMM sangat terbuka dengan perbedaan, bukti yang dapat kita lihat saat ini adalah dengan dibuka selebar-lebarnya kesempatan untuk mahasiswa non-muslim, berbagai suku, berbagai ras bisa dengan setara mengenyam pendidikan di Muhammadiyah. Khusunya UMM sendiri. Itu dari sisi akademis.

Dari sisi kegiatan mahasiswa, organisasi intra UMM sudah sangat tidak asing dengan keberadaan mahasiswa yang tergabung di organisasi ekstra kampus. Sejalan dengan Permen 55 yang salah satu poinnya adalah pimpinan perguruan tinggi wajib menyertakan kegiatan pembinaan ideologi bangsa. Yaitu empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, dan NKRI. Saya kira semua kampus sudah melakukan hal tersebut entah itu kaitannya dalam bentuk kurikuler maupun ekstrakurikuler.

Perlu saya tekankan bahwa dalam Permen 55 itu pimpinan perguruan tinggi itu ‘dapat’. Jadi di sini ada kata, “dapat” membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa (UKM PIB) yang tugasnya khusus untuk membentuk dan membina ideologi bangsa pada diri mahasiswa”. Kata ‘dapat’, berarti tidak harus dibentuk. Hanya saja memang harus ada jaminan untuk semua kegiatan mahasiswa harus selalu memasukkan nilai-nilai empat pilar kebangsaan tersebut.

Saya kira tanpa ada itupun (Permen 55), sebenarnya UMM sudah terbiasa dengan keberadaan organisasi ekstra kampus yang masuk dalam kepengurusan organisasi intra. Memang secara formal tidak ada HMI atau PMII yang berada di kampus, namun keberadaan mereka itu benar ada di struktural intra kampus. Hal tersebut sangat tercermin jelas saat euforia Pemilu Raya di kampus. Misal dari IMM yang merupakan organisasi otonom Muhammadiyah, mereka punya partai sendiri. Kemudian ada HMI yang mereka juga partai sendiri dan mereka secara sehat bersaing di tengah Pemilu tersebut.

Adakah program pembinaan khusus berbasis ideologi bangsa yang telah dilakukan UMM?

Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK, red.) adalah contoh paling bagus dari pembinaan ideologi bangsa. Bahkan, kita sudah sejak jauh-jauh sebelum adanya isu radikalisme yang memapar kampus, kita sudah menyiapkan generasi UMM melalui program tersebut. Tanpa UMM membentuk UKM tersebut, P2KK adalah tradisi kita yang sudah berjalan secara terstruktur bahkan masuk pada program kurikuler bukan ekstrakurikuler. Jadi, kalau di luar sana orang-orang masih bingung mencari bentuk bagaimana membina ideologi untuk mahasiswa, UMM sudah sejak lama memiliki P2KK.

Apakah dari Bidang Kemahasiswaan akan melakukan sosialisasi terkait peraturan ini?

Kami sudah menyiapkan beberapa skema untuk menyosialisasikan peraturan ini. Pada dasarnya kita juga tidak menutup kemungkinan untuk nantinya UMM akan membentuk UKM PIB. Kita akan melihat ke depan jika nanti ada aspirasi yang masuk dan berkembang. Jika keberadaan UKM PIB ini akan semakin memantapkan pembinaan ideologi bangsa pada diri mahasiswa, maka kami akan pertimbangkan untuk dibentuk. Namun jika dirasa yang sudah ada cukup, maka yang perlu dilakukan adalah meningkatkan pembinaan ideologi bangsa pada setiap UKM yang ada tersebut.

Bagi kami, tidak ada masalah terkait dengan peraturan ini. Sikap yang akan kami ambil adalah berdialog bersama para aktivis-aktivis mitra UMM tersebut. Kami berpendapat dengan melibatkan aktivis-aktivis tersebut, maka akan ada sinergi yang bagus antara organisasi intra dan ekstra dalam mengkaji peraturan tersebut. Kita menggali pandangan-pandangan yang berbeda dari para aktivis tersebut. Jalan ini dipilih untuk memfasilitasi aspirasi mereka terhadap peraturan tersebut. Bagi saya ini juga merupakan bentuk pembinaan ideologi bangsa yaitu membiasakan mahasiswa untuk sering berdialog dan berdiskusi untuk mencapai sebuah mufakat.

Bagaimana pendapat Bapak tentang pihak yang kontra terhadap peraturan ini?

Menurut saya, ketidakberpihakan dari kampus-kampus yang menyatakan diri menolak peraturan ini karena setiap kampus atau universitas itu punya pengalaman yang berbeda. Kalau UMM sendiri sudah sejak lama memiliki tradisi yang inklusif. Sehingga hal tersebut justru membuat UMM juga semakin kaya dalam setiap hal. Terutama dalam hal pengalaman. Oleh sebab itu, saat ini UMM berdiri pada kondisi yang netral karena kita harus mengkaji terlebih dahulu baik buruknya. Jika nanti justru akan menghasilkan hal-hal yang kontraproduktif, maka kita putuskan untuk tidak diadakan terlebih dahulu. (*/nis)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image