UMM-MPR RI Gali Pemikiran Islam Soekarno

Author : Humas | Senin, 15 Juni 2015 18:36 WIB

MENJELANG berlangsungnya Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada Agustus mendatang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menggelar seminar “Membedah Pemikiran Keislaman Soekarno” pada Senin (15/6) di Ruang Sidang Senat UMM.

      Seminar menghadirkan pembicara, Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Drs Ahmad Basarah MH dan guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Dr A Munir Mulkhan. Kegiatan dibuka oleh Pembantu Rektor II UMM Drs Fauzan MPd.

      Dalam paparannya, Basarah mengungkapkan, salah satu bukti kuatnya pemikiran keislaman Soekarno bisa dilihat di antaranya dalam pidato 1 Juni 1945 tentang lahirnya Pantja Sila (Pancasila). Dalam pidato tersebut, menurut Basarah, Soekarno 41 kali menggunakan kata “Islam”, 34 kali kata “Kebangsaan”, 21 kali kata “Tuhan”, 6 kali kata “Allah”, 4 kali kata “Nasionalisme”, dan 2 kali kata “Muhammad SAW”.

      Penggunaan kata-kata dalam pidato tersebut membuktikan bahwa Soekarno berupaya membangun sintesis antara nilai-nilai Islam dan kebangsaan dalam ideologi Pancasila.  Basarah lantas mengutip salah satu kalimat dalam pidato Soekarno tersebut, “Kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam.”

      Konsep Pancasila, bagi Basarah, hanyalah salah satu dari sekian aktualisasi pemikiran keislaman Soekarno. Hal itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa Islam telah menjadi konstruksi awal pembentukan pemikiran kenegaraan Soekarno. “Lebih jauh, Islamnya Soekarno adalah Islam progresif, Islam berkemajuan. Sejalan dengan pemikiran pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan,” jelas Basarah.

      Senada dengan itu, Munir Mulkhan mengatakan, berawal dari seorang remaja yang menangisi nasib bangsanya, Soekarno pada akhirnya menemukan nasionalisme yang religius. “Bagi Soekarno, berbangsa itu beribadah,” ujarnya.

      Tak hanya itu, lanjut Munir, Soekarno juga menggugat perilaku masyarakat Islam kala itu yang ia sebut sebagai “Islam Sontoloyo” yang dipandang terlampau kaku dalam memandang fikih (hukum Islam). Hal itu lantas digantinya dengan Islam rejuvenasi, yaitu Islam yang muda, yang tidak menganggap fikih sebagai satu-satunya tiang keagamaan.

      Bagi Munir, Soekarno telah menghadirkan konsep ber-Tuhan yang berkebudayaan. “Itulah agama yang rahmatan lil-alamin,” kata Munir. (han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image