UMM Miliki Alat Ukur Bahasa Inggris Setara Internasional

Author : Humas | Selasa, 10 Maret 2015 16:30 WIB
IKUT TERLIBAT: Mahasiswa asing di UMM juga dilibatkan dalam penyusunan Test of Academic English Proficiency (TAEP), khususnya untuk pengisi suara tes listening.

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kini memiliki alat ukur bahasa Inggris setara internasional, yaitu Test of Academic English Proficiency (TAEP). Seperti halnya Test of English as a Foreign Language (TOEFL) dan International English Language Testing System (IELTS), TAEP dapat digunakan untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris seseorang.

      Bedanya, menurut Direktur Language Center (LC) UMM Dr Masduki MPd, TAEP merupakan tes yang disusun langsung oleh UMM, sementara TOEFL, IELTS, demikian pula berbagai alat tes lainnya merupakan produk dari negara lain. “Keuntungannya, karena disusun sendiri oleh UMM, maka kita dapat terhindar dari penggunaan TOEFL atau IELTS secara ilegal,” terangnya.

      Karena itu pula, TAEP dijamin low cost namun kualitasnya tetap terjamin. “Saya jamin mahasiswa yang mampu mengerjakan TAEP dan hasilnya tinggi, dites lagi dengan tes apapun hasilnya pasti tinggi juga,” tegas Masduki.

      Sebenarnya, TAEP sudah diberlakukan di UMM sejak 2012, namun baru tahun ini tes tersebut dipatenkan oleh Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (Dirjen HKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

      Lebih lanjut, Masduki menerangkan, TAEP telah diuji coba dan diakui kualitasnya setara dengan tes kemampuan bahasa Inggris standar internasional lainnya. “Misalnya tahun lalu, mahasiswa UMM yang mengikuti beasiswa Erasmus Mundus ke Eropa hanya melampirkan dokumen TAEP tanpa disertai TOEFL atau IELTS, dan hal itu tetap diakui oleh Komisi Eropa,” terangnya.

      Terlebih, lanjut Masduki, TAEP lebih mewadahi representasi bahasa Inggris secara global karena pengisi suara untuk tes listening tidak hanya berasal dari Inggris dan Amerika, namun juga mahasiswa dari berbagai belahan dunia, seperti Brazil, Italia, Jepang, Nigeria, Polandia, Prancis, Singapura, Spanyol, Uzbekistan, dan sejumlah negara lainnya.

      “Dengan begitu, nada dan pelafalannya berbeda-beda sesuai dengan negaranya. Itu kan sesuai dengan status bahasa Inggris sebagai bahasa global, tidak hanya milik Amerika atau Inggris saja. Jadi TAEP ini memang lebih globish (global English, red),” tuturnya.

      Untuk pengisi suaranya, LC bekerjasama dengan International Relations Office (IRO) yang mengkoordinir mahasiswa asing di UMM. “Kan UMM banyak mahasiswa asingnya, yang tau itu IRO, jadi kita kerjasama dengan mereka, siapa saja yang cocok jadi pengisi suaranya,” kata Masduki.

      Terkait pelaksanaannya, kepala program English for Specific Purposes (ESP), Wahyu Widi mengatakan, TAEP dilakukan dalam tiga tahap. Pertama sebelum proses pengajaran dimulai, kedua pada semester lima, dan terakhir setelah mahasiswa wisuda. Penjedaan tersebut, lanjut Widi, untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya secara informal. Dokumentasi grafik hasil tes tiap mahasiswa dapat dilihat di kantor LC,” paparnya.

      Widi menilai, sejauh ini sumber daya manusia (SDM) dan minat mahasiswa terhadap bahasa Inggris sudah bagus. Mahasiswa sudah sadar pentingnya bahasa Inggris. Mereka pun melaksanakan TAEP dengan baik,” ujarnya. (dar/zul/han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image