UMM Gazebo Forum Bangun Mahasiswa Sadar Literasi

Author : Humas | Sabtu, 18 Februari 2017 16:41 WIB
Rindang: Suasana diskusi literasi di bawah nuansa rindang gazebo Perpustakaan UMM. Diskusi literasi bertujuan untuk membangkitkan minat mahasiswa dalam membaca dan berkarya. Foto: Rino Anugrawan.

Kesadaran mahasiswa akan literasi  hingga saat ini dinilai sangat kurang. Hal ini menjadikan mahasiswa tidak produktif bahkan asal menelan sebuah informasi tanpa mengetahui validitas sumbernya. Hal tersebut menjadi perhatian khusus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Gelaran cangkrukan multidisipliner UMM Gazebo Forum Sabtu (18/2) mengangkat tema “Bangun Literasi, Bangun Aksi Penuh Kreasi”, Sabtu (18/2) di gazebo perpustakaan pusat UMM.

Tiga narasumber dihadirkan dalam diskusi ini. Adalah dosen penggerak literasi, Pradana Boy ZTF, Ph D dan dua mahasiswa aktivis literasi Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah (IMM), Ade Chandra Sutrisna dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) M. Syahrir Mustofa.

Pradana Boy menyatakan  bahwa membaca, menulis dan berdiskusi merupakan tiga hal yang berkesinambungan. Menurutnya, ada tiga permasalahan yang akan muncul ketika seseorang membaca buku. Pertama, adalah kebiasaan. Jika seseorang belum terbiasa membaca, maka ia harus membiasakan diri terlebih dulu. Kedua, bisa jadi seseorang tidak memahami apa yang dibacanya saat ini. Namun, seiring berjalannya waktu, pemahaman itu akan datang. Terakhir, Boy berpesan agar apa yang dibaca mengendap tanpa jadi karya. “Jangan sampai yang dibaca tidak tersalurkan dan mengendap,” tegasnya.

Senada dengan Boy, Ade Chandra menilai mahasiswa tak cukup dengan membaca saja. Lebih dari itu,  mahasiswa harus menulis dan berpraktik. “Muara dari membaca dan muara dari kegiatan literasi adalah praktik nyata dari hasil bacaannya,” paparnya.

Ketua Bidang Media dan Komunikasi IMM cabang Malang itu juga memberikan tips untuk gemar menulis dan membaca. “Sebaiknya menempatkan diri sendiri di lingkungan yang ‘memaksa’ untuk menulis dan membaca. Jika lingkungan sudah mendukung, maka kebiasaan itu akan terbentuk dengan sendirinya,” pesannya.

Syahrir menambahkan, kegiatan membaca dan menulis merupakan satu kesatuan yang tak terpisah. Menurutnya, buku catatan dan alat tulis menjadi piranti penting untuk dibawa kemanapun. “Ide menulis bisa muncul kapan saja dan dimana saja, jadi kedua benda itu akan memudahkan kita,” terangnya. 

Tak hanya itu, lanjut Syahrir, mempublikasikan hasil tulisan juga dapat memotivasi diri untuk terus membaca dan menulis. “Agar tetap konsisten menulis, barengi dengan publikasi. Maka, semangat untuk membaca dan menulis terus bergelora. Apalagi kalau sudah dimuat,” tukasnya.

Wakil Rektor I UMM Prof Syamsul Arifin menilai diskusi literasi ini sebagai hal krusial. “Saat ini kita menghadapi realitas paradoksial. Sumber informasi melimpah. Paradoksnya, mahasiswa jadi tidak kreatif karena memicu plagiarism. Diskusi ini penting untuk menyadarkan mahasiswa agar menulis sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan,” urai Syamsul dalam sambutannya. (jal/ich)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image