UMM Buka Program Doktor Ilmu Pertanian

Author : Administrator | Rabu, 28 Januari 2015 16:13 WIB

Berita UMM

KEBIJAKAN pemerintah yang akan kembali memperkuat bidang pertanian di Indonesia membuka peluang tenaga ahli yang cukup signifikan. Peneliti, ahli rekayasa pertanian dan pengambil kebijakan berkaliber doktor semakin dibutuhkan untuk mendukung kebijakan ini. Itulah sebabnya tantangan ini harus dijawab dengan membuka peluang studi doktoral bidang pertanian.

      Demikian pernyataan Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Dr Bambang Widagdo, MM, ketika diminta komentarnya tentang alasan UMM membuka Doktor Ilmu Pertanian. Semester ini Prodi terbaru UMM ini sudah mulai membuka pendaftaran mahasiswa baru. UMM memperoleh kepastian dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) yang menilai bahwa prodi ini amat layak dimiliki UMM lantaran memiliki setidaknya enam guru besar di bidang tersebut.

      UMM, kata Bambang, telah memenuhi syarat untuk semua aspeknya, baik dari sisi sumber daya manusia (SDM) maupun infrastruktur. Dari sisi SDM, untuk membuka Program Doktor, kampus harus memiliki minimal dua profesor di bidang terkait. “Karena UMM telah memiliki enam profesor di bidang pertanian, jadi syarat akademik sudah tidak jadi masalah.”

      Lebih-lebih soal infrastruktur, dinilai Bambang, UMM memiliki fasilitas yang sangat memadai, baik itu gedung kuliah, laboratorium, hingga sumber pembelajaran yang berasal dari perpustakaan maupun sumber penunjang yang bisa didapat mahasiswa dengan memanfaatkan area hotspot kampus.

      “Lagipula, kalau soal infrastruktur kan tidak seperti masalah SDM yang harus dipersiapkan sejak lama. Masalah infrastruktur jauh lebih mudah diatasi. Misalnya kurang ruang kuliah ya tinggal bangun, kurang sumber pembelajaran tinggal dicari, tapi kalau SDM-nya yang kurang kan repot. Ga bisa buru-buru,” terangnya.

      Sementara dari segi prospek, Bambang memandang keberadaan Program Doktor Ilmu Pertanian ini sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini. Baginya, saat ini pemerintah memiliki political will untuk memperkuat bidang pertanian beserta bidang-bidang serumpun, yaitu peternakan, perikanan, dan kelautan.

      Lebih dari itu, lanjut Bambang, kehadiran prodi ini sangat didukung oleh Dikti. “Semula nama prodi yang kami usulkan yaitu Program Doktor Bioteknologi, namun oleh Dikti diberi peluang untuk membuka Doktor Ilmu Pertanian karena cakupannya yang lebih luas. Kalau bioteknologi terbatas, nah kalau ilmu pertanian kan bisa agroteknologi, bisa sosial ekonomi pertanian, yang penting core-nya ilmu pertanian, termasuk perikanan dan peternakan.”

      Bambang menilai, kehadiran prodi ini juga selaras dengan situasi bangsa kita yang 80 persen menyandarkan kebutuhan hidup di bidang pertanian. Dengan ketersediaan lahan dan potensi sumberdaya alam yang amat memadai, Bambang yakin, jika rekayasa di bidang pertanian terus dikembangkan, Indonesia akan memiliki kekuatan pangan yang mengalahkan Thailand dan Jepang.

      “Selama ini, di bidang pangan kita sering mengimpor dari Thailand, dan itu tidak menggunakan mata uang rupiah. Dampaknya, tidak ada orang luar yang membeli rupiah. Karena itu, salah satu cara meingkatkan nilai rupiah yaitu ekspor bidang pangan,” paparnya.

      Program Doktoral Ilmu Pertanian melengkapi dua prodi Strata-3 yang sudah ada sebelumnya, yakni Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Doktor Pendidikan Agama Islam. Sedangkan secara linear, UMM telah memiliki enam prodi pada Strata-1 dan satu prodi di Strata-2.

      “Kami membuka peluang bagi siapa saja yang berminat memperkuat standing akademik, kemampuan penelitian, rekayasa pertanian maupun pembuat kebijakan untuk studi di UMM. Keunggulan UMM selain akreditasi institusi sudah bernilai A, juga memiliki fasilitas lengkap yang dapat digunakan oleh mahasiswa S-1 hingga S-3,” pungkas Bambang. (han/nas)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image