Tangkal Radikalisme, P2KK UMM Bangun Nasionalisme

Author : Humas | Senin, 18 Mei 2015 14:47 WIB
Berita UMM

PROGRAM Pembentukan Karakter dan Kepemimpinan (P2KK) di Universitas Muhammadiyah Malang tahun ini memasuki usia ke-11. Sejak dimulai tahun 2004 lalu, program ini telah melahirkan generasi mahasiswa yang berkarakter, berahlak mulia, nasionalis dan multikulturalis. Buktinya, mahasiswa dan lulusan UMM kini diakui publik sebagai generasi yang kuat akidahnya, toleran dan moderat.

Demikian dikemukakan ketua UPT P2KK, Drs. Khozin, MSi, Senin (18/5).  Dia bersama stafnya sedang sibuk-sibuknya menyiapkan pelaksanaan P2KK tahun ini yang akan dimulai 25 Mei dan berakhir 30 Januari 2016 itu. “Pada dasarnya P2KK ini menyiapkan calon mahasiswa agar memiliki pandangan yang sama terhadap budaya akademik, membangun kepribadian, keterampilan beribadah yang sesuai syariat, dan karakter kepemimpinan,” terangnya.

Meski demikian, muatan materi Al-Islam merupakan materi paling besar porsinya dibanding materi lainnya. Titik tekannya pada ajaran Islam yang benar secara akidah, moderat dan rahmatan lil alamin. “P2KK ini kita harapkan menjadi cara efektif  membangun nasionalisme dan menangkal radikalisme, segala bentuk penyimpangan akidah dan kekerasan,” ujar mantan dekan FAI UMM ini.

Mereka, para peserta, kata Khozin didoktrin langsung oleh rektor agar menjauhkan dari empat pantangan. Keempat pantangan tersebut adalah free sex (pergaulan bebas), drug (mabuk dan narkoba), crime (kriminalitas dan kehajatan), dan violance (kekerasan, termasuk vandalisme).

Menurut rektor, Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP, keempat hal tersebut merupakan pintu masuk setan yang harus ditutup rapat-rapat. Jika dilanggar, maka tak segan-segan kampus akan men-drop out mahasiswa. “Ini demi menjaga kampus ini dari praktik-praktik yang merusak masa depan generasi muda. Sebaiknya kita dorong mereka untuk membangun dedikasinya untuk berprestasi demi nusa dan bangsa,” kata rektor dalam sebuah kesempatan.

P2KK diberlakukan bagi semua mahasiswa baru UMM sebagai syarat menjadi mahasiswa penuh. Program ini harus diikuti selama enam hari lima malam di asrama sebagai bentuk karantina. Selama karantina ini peserta tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi gadget dalam bentuk apapun. Selama itu pula, setiap hari harus belajar ibadah secara benar sesuai Qur’an dan Hadits, berdiskusi kelompok, dan membangun komitmen untuk hidup sebagai mahasiswa yang memiliki nasionalisme tinggi.

Untuk menjamin program ini sesuai arah tersebut, maka seluruh trainer dan pendamping yang berjumlah 100 orang discreening secara ketat. Di samping itu materi yang sudah dibukukan juga dirancang dan dijaga kualitasnya agar tidak membuka keran ajaran sesat dan radikal. “Kita jamin semua bersih,” tegas Khozin.

Tahun ini ada 27 angkatan yang terdiri dari sekitar 170 peserta sertiap angkatannya. Oleh karena mendekati bulan Ramadhan dan Idul Fitri, UPT P2KK telah mengatur jadwal agar peserta dikelompokkan berdasarkan asal daerahnya. “Untuk mahasiswa luar pulau, ataupun yang Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI, jadwalnya tentu tidak kita taruh di dekat liburan Idul Fitri karena pertimbangan agar tidak kesulitan transportasi mudik dan baliknya,” tutur Khozin. (nas)

 

 

 

 

 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image