Seniman Jabung di UMM: Lewat Budaya Kita Menjadi Kaya

Author : Humas | Sabtu, 18 Mei 2019 16:20 WIB
Seniman ukir topeng sedang menjelaskan cara pembuatan topeng. (Foto: Rizki/Humas)

Pendiri Gubuk Baca Lentera Negeri Fachrul Alamsyah mencurahkan keprihatinannya kepada anak-anak muda saat ini yang justru lebih mengenal tokoh-tokoh Super Hero dari luar negeri, ketimbang daerah asalnya atau lokal. “Oleh karena itu, kampus harus menjadi corong utama bagi generasi penerus bangsa untuk mengenalkan itu,” jelas Irul di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/5).

Dijelaskan pula bahwa sebenarnya budaya bisa membuat seseorang menjadi sangat kaya. Bukan soal materi, tetapi menjadi kaya akan ide, imajinasi serta inspirasi. “Saat ini, di Jabung terdapat seorang maestro topeng yang bernama Mbah Suparjo yang karyanya telah memiki hak paten atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI),” tukasnya pada seminar dan workshop budaya yang berlangsung di Auditorium BAU.

Pada gelaran workshop yang mengangkat tema menjadi “Enterpreneur Berbasis Budaya” ini, tak hanya mengajarkan proses pembuatan topeng dan gantungan kunci, pemateri juga memperkenalkan Tari Khas Jabung yakni Tari Wayang Topeng Gunung Sari sebagai pembuka. Tarian ini mengisahkan tentang sosok pangeran yang berasal dari kerajaan Kediri atau Doho yang sakti mandraguna, berhati mulia dan baik budi.

Baca Juga: BIPA UMM Kenalkan Budaya Gotong Royong Lewat Diplomasi Kemanusiaan

“Ini adalah kali pertama bagi saya untuk memberikan workshop dalam lingkungan civitas akademika,” ungkap Fachrul Alamsyah yang kerap disapa Irul bersama sejumlah rekan Seniman Ukir Topeng, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Mereka mengajari para mahasiswa pembuatan topeng berbahan dasar Sterofoam serta gantungan kunci Resin atau bahan kimia berbentuk cairan kental seperti lem.

“Saya yakin setelah adanya gambaran seperti ini, mungkin akan ada tangan kreatif yang mau mengembangkan dan terus menggerakkan kebudayaan, seiring dengan perkembangan dan kemajuan. Karena membangun entrepreneur yang berbasis budaya, terutama bagi para mahasiswa belum banyak,” pungkas Daroe Iswatiningsih selaku Kepala Lembaga Kebudayaan UMM saat memberikan sambutan. (Riz/Can)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image