Seminar Komunikasi Ingatkan Berkah dan Petaka Media Sosial

Author : Humas | Rabu, 08 April 2015 13:04 WIB
Hati-hati: Dari Kiri (Nasrullah, MSi, Dra Sirikit Syah, MA, dan moderator Widiya Yutanti, MA) menyampaikan materi kuliah tamu bertema Melek Media Sosial. Diharapkan melalui kuliah tamu ini mahasiswa dapat berhati-hati menggunakan media sosial, (8/4).

MEDIA Sosial tak hanya membawa berkah, namun juga membawa petaka. Hal itu terungkap dalam Seminar Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertema “Melek Media Sosial”, Rabu (8/4). Bertempat di ruang teater UMM Dome, kuliah tamu ini disampaikan dua pakar yang ahli di bidang media literasi, yakni Direktur Lembaga Konsumen Media Watch, Dra Sirikit Syah, MA dan aktivis Media Literacy UMM, Nasrullah, MSi.

       Di kesempatan pertama, Sirikit mencontohkan efek dari penggunaan microblogging Twitter yang tidak benar dihadapan sekitar 400 mahasiswa Komunikasi yang hadir. “Contoh seorang PR (Public Relations) Executive yang men-tweet postingan rasis tentang Afrika sebelum naik ke pesawat. Setelah sampai di Afrika, ia sudah dipecat dan dihujat oleh jutaan orang akibat postingannya tersebut,” tuturnya.

       Menurutnya, keberadaan media sosial sudah menjadi public sphere atau tempat masyarakat untuk bebas berbicara. “Public Sphere pada jaman dulu adalah warung-warung atau tempat nongkrong. Media massa diharapkan mengambil alih public sphere ini. Namun karena media massa sudah banyak yang dibungkam atau membungkam diri, berpihak, bahkan penuh dengan agenda setting, jadilah media sosial menjadi public sphere abad 21,” urai Sirikit.

       Ia pun mewanti-wanti, jika pilar keempat demokrasi yakni media massa atau pers sudah tidak dapat dipercaya, bukan tidak mungkin akan dibentuk pilar kelima yakni Media Sosial. Menurutnya, resiko menggunakan media sosial sangatlah besar. “Kita harus mewaspadai media sosial, karena sifatnya yang masif dan publik, rentan terhadap fitnah dan pencemaran nama baik, juga konten yang sudah terpublish susah untuk diralat,” katanya.

       Senada dengan Sirikit, Nasrullah mengungkapkan media baru yakni media sosial ini memiliki kelebihan tersendiri dibanding media lainnya. “Media sosial ini kontennya bisa dikelola sendiri, namun menjadi beresiko dan menjadi petaka ketika konten-konten pribadi anda kemudian di-share ke orang lain tanpa sepengetahuan anda,” ujarnya.

       Media sosial bisa mengangkat bukan siapa-siapa (no one) menjadi orang terkenal (someone), tetapi sebaliknya bisa menghabisi hidup seseorang pula. “Itulah dua sisi mata uang, di satu sisi menjadi berkah, di sisi lain menjadi petaka. Semua ada di jari-jari kita yang menentukannya,” tukas Nasrullah yang juga Kepala Humas UMM ini.

Selfie ria : Setelah seminar berakhir pemateri menyempatkan diri untuk berfoto bersama para mahasiswa, (8/4).

       Sirikit pun menghimbau mahasiswa untuk menjadi konsumen media yang berdaya. Ia juga mengajak untuk membentuk lembaga media watch di komunitas, kampus, dan lain-lain. “Untuk menjadi berdaya, kita harus mampu melek media dengan mengerti kinerja media dan kebutuhan akan media, bijak menyikapi media, memproduksi informasi dan berbagi pengalaman serta pengetahuan yang bermanfaat, juga mengubah status yang lebay atau berlebihan menjadi kalimat penuh hikmah dan inspiratif,” ajak Sirikit.

       Ketua Prodi Komunikasi UMM, Sugeng Winarno, mengatakan akan terus menggelorakan semangat melek media. Di Prodi yang ia pimpin, media literacy merupakan tema sentral yang menjadi payung penelitian maupun pengabdian masyarakat. "Kita telah memiliki beberapa simpul media literacy di berbagai sekolah, pondok pesantren, ormas, hingga Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Seminar ini juga bagian dari kampanye media literacy untuk kalangan mahasiswa agar waspada dalam menggunakan media sosial," pungkasnya. (zul/nas)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image