Seminar Internasional Komunikasi: Kupas Pemberitaan Media Pasca Teror Di Selandia Baru

Author : Humas | Senin, 22 April 2019 11:45 WIB
Salah satu penyampaian dari pemateri. (Foto: Mirza/Humas)

Gambaran negatif sekaligus stereotip terhadap agama Islam seringkali kita jumpai pada pemberitaan sejumlah media. Hal tersebut disampaikan Budi Suprapto, staf pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Seminar Internasional “Pasca Teror Penembakan di Selandia Baru: Respon dan Cara Pemberitaan Media Mengenai Muslim” di Auditorium BAU, Kamis (18/4) pagi.

Ironi sekali, sambungnya, melihat di Indonesia yang mayoritas penduduk memeluk agama Islam, tetapi belum memiliki kekuatan yang memadai saat berhadapan dengan pemberitaan yang merugikan umat Islam, maupun kelompok Islam. “Terdapat empat kunci dari wacana yang sering digunakan media Indonesia dalam memaknai kelompok Islam, yaitu ekstremis, fundamentalis, teroris, dan anti NKRI,” tuturnya.

Tiga diantara wacana tersebut yakni ekstremis, fundamentalis dan teroris bahkan kerap dijumpai pada pemberitaan Barat. Sementara Tobias Hoheneder, staf pengajar University Erlangen Numberg, Jerman juga menyampaikan pembingkaian Islam di media. “Meskipun Jerman merupakan negara yang menerima imigran muslim, akan tetapi 80% pemberitaan menunjukkan sisi negatif dari Muslim,” tandasnya.

Baca juga: Rektor Cup Jadi Ajang Lahirkan Para Juara

Berbeda dengan di Indonesia, menurut Budi Suprapto, media tidak menunjukkan eksistensinya sebagai media di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Tidak banyak media di Indonesia yang menggunakan kata muslim dalam pemberitaannya. Bahkan, ia menambahkan, presiden Indonesia tidak begitu menunjukkan eksistensinya dalam menyatakan sikap terhadap terorisme.

Jika dilihat, pembingkaian media Jerman mengenai muslim, misalnya berupa penindasan wanita, masalah integrasi, serta dikaitkan dengan stigma, kecurigaan dan stereotip tertentu, yakni sebagai agama yang pro pada kekerasan dan sarang terorisme. Tobias juga menceritakan bagaimana talkshow pada media di Jerman hanya mengundang penceramah dari kelompok yang dikenal radikal saja.

Sementara, disampaikan Mustafa Selcuk, seorang kandidat PhD Aristoteles University of Thessaloniki, pasca aksi penembakan di Selandia Baru, dunia Barat mulai merubah cara pandangnya terhadap muslim. Dan mulai memandang sisi positif muslim. "Jerussalem yang negaranya memiliki permasalahan dengan negara muslim, media juga menyatakan penembakan tersebut sebagai aksi teror," lanjutnya. (*)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image