Riset Mahasiswa ACICIS Makin Menarik

Author : Humas | Jum'at, 23 April 2010 14:11 WIB
Brooke Gabriel Nolan dengan mengenakan akseosoris adat khas NTT menjelaskan tentang masalah perbatasan perairan RI yang berada di Pulau Rote, NTT dengan pihak Australia.
Temuan-temuan mahasiswa Australian Concortium for in Country Indonesia Studies (ACICIS) yang kuliah di UMM semakin menarik saja. Rabu (14/4) lima mahasiswa asal Australia, Amerika dan Inggris itu mempresentaskan temuan sementara risetnya dalam Progress Report Seminar di ruang sidang FISIP UMM

Koordinator ACICIS UMM, Prof. Dr. M. Mas’ud Said, mengatakan, penelitian kelima mahasiswa ACICIS angkatan ke-30 ini telah merambah hampir seluruh nusantara. Bahkan ada yang sampai meneliti di pulau Rote Nusa Tenggara Timur (NTT). “Karya mereka semakin unik dan menarik, bahkan ada yang menantang,” kata Mas’ud.

Lima mahasiswa itu adalah Thomas Edward Flemons dari Inggris yang meneliti teataer tradisional berdasarkan novel Durga/ Umayi karya Romo Mangunwijaya, Madison Nicole Richardson dari Amerika tentang evaluasi adopsi pertanian SRI, Benita Kali Chudligh dari Australia dengan riset kurikulum Pondok Pesantren di Jawa Timur, Lisa Clare Mapson dari Australia dengan penelitian kasus pencurian Reog Ponorogo oleh Malaysia, dan Brooke Gabriel Nolan dari Austrlia mengambil tema kehidupan nelayan di pulau Rote.

Riset Lisa tergolong paling menantang karena dengan beraninya mengambil judul yang provokatif “Malingsia: Kasus Pencurian Reog Ponorogo”. Terminologi “Malingsia” menurut Lisa merujuk pada sikap orang Malaysia yang mengaku kesenian Reog Ponorogo sebagai budaya mereka. Riset ini mengarah pada sikap warga dan tokoh masyarakat di Ponorogo terhadap fenomena  “Malingsia” itu.

Hasil riset menunjukkan, Reog Ponorogo tidak hanya kesenian tetapi juga memiliki nilai sakral sehingga menjadi kekuatan tertentu bagi masyarakat Ponorogo. Mereka merasa tersakiti apabila terjadi pelecehan terhadap kesenian yang sudah turun temurun itu. “Namun efeknya, sekarang anak-anak muda sangat bersemangat memainkan reog, padahal sebelumnya tidak,” kata Lisa.

“Beberapa narasumber mengatakan Reog Ponorogo boleh dipentaskan di mana saja asalkan minta ijin dulu sama orang–orang Ponorogo. Yang penting saya rasa bukan Reognya melainkan nama Ponorogonya”, tambah Lisa. Sedangkan Prof. Dr. Mas ud Said, menambahkan bahwa nilai, kepercayaan dan harga diri yang terkandung di dalam Reog itulah yang membuat masyarakat Ponorogo sangat marah terhadap kasus ini.

Riset Thomas Edward Flemons juga tak kalah menarik. Ia meneliti teater tradisional berdasarkan novel Durga/Umayi karya Romo Mangunwijaya. Menurutnya novel Mangunwijaya sangat dikenal oleh orang asing termasuk di negaranya. “Tapi di Indonesia ternyata banyak orang tidak mengenalnya,” ujarnya heran.

Sedangkan Benita Kali Chudleigh banyak mendapat kritikan dari para peserta terkait materi penelitiannya tentang Kurikulum Pondok Pesantren di Jawa Timur. Benita mengaku cukup terkejut, ketika Ponpes Nurul Jadid yang dijadikan tempat penelitian dinilai jauh dari kesan tradisional karena sudah mengajarkan pelajaran–pelajaran yang mengarah ke sekuler seperti Bahasa Inggris. “Pada judul anda tertulis kurikulum ponpes, tapi kok pada laporan anda malah banyak membahas tentang kurikulum Madrasah, sedangkan dua hal itu sudah jelas berbeda”, tanya Sugeng Puji Leksono salah seorang peserta yang hadir.

“Fokus dari permasalahan yang diteliti Benita adalah, apakah ponpes yang masih mempertahankan nilai tradisional akan mampu bertahan?”, jawab Dr. Achmad Habib selaku dosen pembimbing Benita. Untuk melngkapi kekurangan pada penelitian tersebut, Benita selanjutnya disarankan untuk meneliti di ponpes An-Nur sebagai salah satu ponpes salafiah yang masih kuat mempertahankan ajaran agama tanpa member tambahan pelajaran umum yang seperti terdapat di sekolah.

Sedangkan Madison Nicole Richadson tertarik pada Pembangunan Pertanian dari atas ke bawah dengan cara mengevaluasi adopsi  System Rice Implication (SRI) di Indonesia yang bekerjasama dengan pihak rokok Sampoerna. Madison menititik beratkan pada permasalah apa yang menyebabkan SRI ini tidak dierapkan di seluruh Jatim, padahal system tersebut sudah terbukti lebih unggul dalam meningkatkan produksi pertanian di bandingkan system ttradisional.

Brooke Gabriel Nolan, sebagai presenter terakhir mengangkat masalah perbatasan perairan RI yang berada di Pulau Rote, NTT dengan pihak Australia. Bahkan MoU box yang disepakati kedua belah Negara pada tahun 2007 masih belum dipahami oleh masyarakat nelayan di kepulauan Soao, Tanjung Pasir dan pulau Rote yang masih dibalut dengan kemiskinan. Sedangkan banyak dari nelayan tersebut yang ditangkap oleh pemerintah Autralia dengan isu pencurian ikan. Padahal kehidupan masyarakat yang mayoritas sebagai nelayan sangat tegantung pada kehidupan laut. Sehingga, permasalahan social ekonomi mereka menjadi perhatian Brooke pada penelitiannnya untuk menyelesaikan program ACICIS yang ditempuhnya. (rwp/zpd)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image