Redaktur Senior Jawa Pos Beri Tips Menulis Esai Populer ke Dosen dan Karyawan UMM

Author : Humas | Selasa, 13 November 2018 14:56 WIB
Doan Widhiandono. (Foto: Aan/Humas)
BANYAK akademisi terbiasa menulis ilmiah, kesulitan saat menungkannya ke dalam bentuk populer. Meski telah banyak menulis jurnal dan karya ilmiah lain, tentu format menulis esai populer berbeda. Berangkat dari hal itu, Doan Widhiandono, redaktur senior opini-budaya harian Jawa Pos memberi tips kepada puluhan dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (13/11). 
 
Disampaikan Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si bahwa civitas akademika, terkhusus dosen, kerap kesulitan meramu gagasan dalam bentuk tulisan esai populer semisal opini dan artikel. Demikian, diundangnya redaktur senior Jawa Pos ini dalam rangka mendorong sekaligus memberi arahan bagaimana agar naskah tulisan bisa lolos meja redaksi.
 
Dengan mengutip salah satu tokoh panutannya, Malcolm F. Mallete, Doan memberi penekanan bahwa yang dibutuhkan untuk menciptakan tulisan yang bagus yakni detail. “Dalam konteks penulisan esai popular atau opini, detail fakta, ide, alur, kalimat dan lainnya menjadi penting dan wajib diperhatikan. Bagaimana kita menyusunnya secara cermat,” ungkap Doan yang telah menjadi redaktur Jawa Pos selama 16 tahun ini.
 
Doan mengelompokkan setidaknya 3 kendala yang dihadapi penulis, mengapa tulisannya ditolak redaksi. Diantaranya kendala materi, kendala teknis, dan kendala administratif. “Tulisan sebaik apapun, jika tidak mengindahkan kelengkapan-kelengkapan ini, bakal ditolak media yang kita sasar. Menulis di media berarti menyelaraskan tulisan dengan media tersebut,” terangnya.
 
Kendala pertama yakni soal materi. Yang perlu diperhatikan para penulis esai popular, setidaknya jenis tulisan ini memuat sejumlah nilai, di antaranya: untuk mendidik (to educate), untuk menginformasikan (to inform), untuk menghibur (to entertain) dan, untuk mempengaruhi (to influence). Hal ini sejalan dengan fungsi media yang terjelaskan dalam Undang-Undang Pers No. 40/1999: Pasal 3 (1) Pers Nasional.
 
Kendala lainnya yang kerap ditemui ketika menulis esai populer, sambung Doan, yakni kendala teknis. Kendala teknis di antaranya penulisan judul, lead atau teras berita, serta mengindahkan prinsip kebahasaan. “Dalam menulis judul, harus mencerminkan isi tulisan, tidak banyak kata, mengacu pada nilai, serta menjual. Karena kerap para akademisi sering terjebak pada penulisan judul gaya jurnal,” ungkapnya.
 
Terkahir, disebut Doan, kendala yang sering dihadapi penulis dan sering tidak diperhatikan yakni kendala administratif. “Terkhusus di Jawa Pos, beberapa kelengkapan yang mesti dipenuh di antaranya nama, curriculum vitae singkat, kartu identitas, NPWP, juga nomor rekening. Tulisan sebagus apapun, kalau kelengkapan ini tidak dipenuhi, sampai kapanpun tulisannya tidak akan dimuat,” tandasnya. (*can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image