Indonesia English Arabic

Psikologi UMM Gelar Pendampingan Minat Bakat Siswa Papua dan Papua Barat

Author : Humas | Minggu, 04 November 2018 19:05 WIB

Berita UMM

Siswa dari sejumlah sekolah di Papua dan Papua Barat tengah mengikuti salah satu sesi tes minat bakat. (Foto: Istimewa) 
DIREKTORAT Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) kembali mempercayakan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan lanjutan program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) pelajar Papua dan Papua Barat.
 
Fakultas Psikologi sebagai panjang tangan Pemerintah, mengadakan pendampingan dan tes minat bakat bagi peserta ADEM di Gedung Kuliah Bersama 4 UMM, Sabtu (3/11). Pendampingan dilakukan melalui Forum Group Discussion Siswa, di mana Fakultas Psikologi memberikan pengarahan minat bakat serta motivasi kepada siswa.
 
Pada kegiatan ini diikuti oleh siswa Papua dan Papua Barat Sekolah Menengah Atas di wilayah Jawa Timur yang berada pada tingkat 10 dan 12. Dalam pemetaan pendampingan minat bakat, siswa kelas 12 lebih difokuskan pada pendampigan menghadapi peminatan studi lanjutan.
 
“Kita memetakan dan mengindentifikasi potensi siswa, agar guru pendamping dapat mengarahkan kelanjutan studi anak-anak dampingannya dari Papua. Kita juga mengarahkan siswa agar termotivasi untuk melanjutkan studi sesuai minat bakat, bukan hanya ikut-ikutan,” terang Zainul Anwar, M.Psi selaku Ketua Pelaksana.
 
Di lain tempat, para guru pendamping juga mengikuti Forum Group Discussion yang dipimpin oleh Dosen Psikologi, Muhammad Shohib, S.Psi, M.Si. Forum diskusi ini dihadiri oleh 32 Sekolah Menengah Atas di wiliyah Jawa Timur yang bekerjasama dengan program ADEM ini.
Salah satu sesi focus group discussion. (Foto: Istimewa)
 
Sebagai wujud pendampingan, Fakultas Psikologi memberikan wadah kepada guru pendamping untuk berdiskusi dan sama-sama memecahkan masalah yang dihadapi tiap sekolah. Forum diskusi ini juga sebagai bahan acuan dan evaluasi Pemerintah untuk melanjutkan program ADEM selanjutnya.
 
Salah satu tantangan yang dihadapi para guru yang terlibat dalam kegiatan ini, merasa tidak mudah dalam membina anak didiknya. Hal ini dikarenakan perbedaan budaya yang dimiliki siswa program ADEM dengan budaya yang ada di masyarakat sekitar khusunya wilayah Jawa Timur sendiri.
 
“Perbedaan budaya menjadi tantangan dari setiap sekolah. Alangkah lebih baik untuk kedepannya, siswa diberi orientasi mengenai budaya dan kebiasaan yang akan mereka tempati sebelum pemberangkatan,” usul Titik, salah satu Guru Pendamping asal Batu, Jawa Timur. (bel/can)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image