PSIF Kaji Pembentukan Manusia Dari Sisi Agama dan Medis

Author : Humas | Selasa, 23 Februari 2021 10:54 WIB
PSIF gelar kajian membaca lebih dekat asal-muasal manusia (Foto : Istimewa)

Membahas tentang proses penciptaan manusia memang selalu menarik. Dalam rangka mengkaji perpaduan proses penciptaan manusia secara agama dan medis, Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggerakan kajian bulanan berjudul Membaca Lebih Dekat Asal-muasal Manusia, Minggu (21/02).

Hadir sebagai pemateri pada acara tersebut dokter RSU UMM dr. Thontowi Djauhari, NS., M.Kes. Tomi demikian sapaan akrabnya menjelaskan proses penciptaan manusia  yang terdapat dalam Al Quran Surat Al-Mukminun Ayat 12-14. Ia menguraikan isi ayat tersebut yang memiliki arti Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati berupa tanah, kemudian saripati tersebut kami jadikan nutfah yang tersimpan di tempat kokoh. Lalu nutfah menjadi alaqoh dan menjadi mudghoh. Kemudian mudghoh tersebut menjadi tulang belulang. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Baca juga : Khawatir dengan Pendidikan Karakter, Mahasiswa Ciptakan Aplikasi Citra

“Fase-fase tersebut sama seperti pembentukan manusia dalam medis. Dalam Bahasa arab alaqoh berarti lintah atau segumpal darah. Pada masa awal bentuk embrio itu seperti lintah. Pada masa perkembangan embrio gumpalan-gumpalan darah tersebut menyatu dan menjadi segumpal daging. Disinilah tahap mudghoh dimulai. Janin tersebut terus berkembang memiliki tulang dan daging. Lalu sampailah pada tahap sang ibu melahirkan,” urainya.

Menyambung penjelasannya, Tomi kembali mengutip Al Quran Surat Al-Isra' Ayat 36 Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

“Urutan ini unik dan penting karena sesuai dengan jalannya indra pada bayi. Ketika janin melewati masa mudghoh dan sampai pada fase fetal  hal pertama yang terbentuk adalah telinga di mana bayi bisa mendengar. Lalu diikuti dengan terbentuknya mata yang akan berfungsi empat minggu setelah dilahirkan. Lalu, setelah bisa melihat bayi akan mulai memakai perasaannya untuk berfikir,” lanjut Tomi kembali menjabarkan kesesuaian antara apa yang terdapat pada Al Quran dengan ilmu secara medis.

Baca juga : Prodi Biologi Mantapkan Belajar Skema Kampus Merdeka

Di akhir, Tomi menutup materinya dengan Quran Surat At-Tin ayat 4 yang memiliki arti Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Berkaca dari ayat tersebut, Tommy menyampaikan bahwa melalui kedua sudut pandang dari sisi medis dan agama masyarakat dapat lebih mudah memahami dan saling bertukar informasi.

“Saya berharap dengan perbedaan sudut pandang ini dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik,” tandasnya. (syi/sil)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Muhammadiyah