Proyek LEx: Produsen Kerupuk Telo Tetap Produktif Saat Musim Hujan

Author : Humas | Sabtu, 21 Maret 2015 11:36 WIB
PAMERKAN ALAT: Tim LEx yang mengerjakan proyek peningkatan produksi kerupuk telo memamerkan salah satu alatnya di UMM Dome, Kamis (19/3).

KOLABORASI 24 mahasiswa Singapore Polytechnic (Politeknik Singapura) dan Kanaza Institute of Technology (KIT) Jepang dengan 24 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama dua pekan terakhir, yaitu sejak 9 hingga 20 Maret 2015, menghasilkan teknologi yang bertujuan meningkatkan produksi masyarakat Batu. Sebanyak 48 mahasiswa yang tergabung dalam proyek Learning Express (LEx) ini dibagi dalam tiga kelompok yang mengerjakan tiga proyek berbeda, yaitu peningkatan produksi kerupuk telo, permen susu, dan peternakan ulat. Berikut catatan dari tim pertama yang menghasilkan alat yang mempermudah proses produksi kerupuk telo.

Setelah melakukan riset selama dua hari di salah satu pabrik kerupuk telo di kota Batu, tim ini menemukan bahwa proses produksinya membutuhkan waktu yang sangat lama serta menguras tenaga karena harus diaduk secara manual menggunakan tangan. “Selain tidak efisien, prosesnya juga melelahkan,” kata ketua tim kerupuk telo Qingmei dari Politeknik Singapura.

      Tak hanya itu, produsen krupuk juga tidak memiliki tempat yang stabil dan kering untuk menyimpan kerupuk. “Jadi kalau musim hujan, mereka bingung, mau disimpan di mana, padahal proses produksinya masih berjalan,” terang Qingmei.

      Karena itulah, dengan metode design thinking, tim ini lantas menghasilkan dua alat yang diyakini sangat membantu produsen kerupuk telo, yaitu mesin pengaduk (mixer machine) dan dry box (kotak pengering). “Mixer machine membuat pekerja tidak mengaduk secara manual, sehingga hemat tenaga. Prosesnya juga jauh lebih cepat, jadi sangat praktis dan efisien,” paparnya.

      Sementara itu dry box membuat pekerja bisa tetap produktif sekalipun di musim hujan. “Alat sederhana ini membuat pekerja tak perlu khawatir jika hujan datang. Alat ini bisa diletakkan di atap rumah, dan kerupuk telo tetap kering,” ujar Qingmei.

      Selain membuat dua alat tersebut, tim ini juga membuat rencana pemasaran (marketing plan) bagi produsen agar hasil penjualannya bisa meningkat drastis. “Mulai dari bikin logo baru, kemasan menarik, hingga teknis pemasaran yang efektif.”

      Qingmei menambahkan, dari segi proses pembuatan alat timnya tidak mengalami kesulitan. “Kalaupun ada, itu hanya persoalan bahasa. Bapak dan Ibu pemilik kerupuk telo tidak bisa berbahasa Inggris dan kami tidak bisa berbahasa Indonesia. Untungnya ada teman-teman dari UMM yang sangat membantu,” tutur penyuka bakso ini.

      Mahasiswa Fakultas Ekonomi UMM Wan Oktavina Ekawati yang juga tergabung dalam tim ini mengaku, mahasiswa dari UMM memang ditugaskan untuk menemani mereka dalalam menyelesaikan tugas mahasiswa dari Singapura dan Jepang, terlebih persoalan bahasa. “Bahkan kami menemani mereka pada tiap rutinitas sehari-hari seperti wisata kuliner hingga shopping. Ini supaya mereka nyaman dan bisa bekerja secara maksimal.” (rhe/nis/han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image