Proyek LEx: Ciptakan Alat Peternak Ulat yang Efisien

Author : Humas | Sabtu, 21 Maret 2015 11:46 WIB
RAMAI PENGUNJUNG: Pemeran alat-alat hasil proyek tim LEx diramaikan oleh pengunjung, Kamis (19/3) di UMM Dome. Mereka tertarik dengan alat yang memudahkan peternak ulat di kota Batu.

KOLABORASI 24 mahasiswa Singapore Polytechnic (Politeknik Singapura) dan Kanaza Institute of Technology (KIT) Jepang dengan 24 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama dua pekan terakhir, yaitu sejak 9 hingga 20 Maret 2015, menghasilkan teknologi yang bertujuan meningkatkan produksi masyarakat Batu. Sebanyak 48 mahasiswa yang tergabung dalam proyek Learning Express (LEx) ini dibagi dalam tiga kelompok yang mengerjakan tiga proyek berbeda, yaitu peningkatan produksi kerupuk telo, permen susu, dan peternakan ulat. Berikut catatan dari tim ketiga yang menghasilkan alat peternak ulat yang praktis.

Butuh waktu selama tiga hari bagi Chee Jae Sian dan rekan setimnya untuk mengamati proses demi proses peternakan ulat di Kota Batu. Sebelum kedatangan timnya, para peternak ulat menggunakan sendok makan dalam memisahkan pupa dengan larva. Hal tersebut akan memakan waktu lama sehingga sewaktu-waktu larva dapat memakan pupa. “Oleh karena itu, pupa dan larva harus segera dipisahkan,” ujar Chee Jae Sian.

      Usai melakukan pengamatan, selama dua minggu tim ini memikirkan solusi apa yang bisa diterapkan untuk peternak ulat. Dengan menggunakan metode design thinking, tim ini akhirnya menemukan tiga alat praktis yang dapat membantu para peternak ulat. “Ketiga alat tersebut yaitu sendok pupa, laci pemisah, dan penyaring larva,” ungkapnya.

      Untuk tahap pertama, sendok pupa yang gagangnya terbuat dari tabung ini berfungsi mengumpulkan larva dan juga mengefisiensi waktu. Kemudian laci pemisah berfungsi memelihara ulat yang akan menjadi kepompong. Melalui alat ini, cukup satu kali proses saja sudah mendapatkan kotoran, ulat, dan pupa sekaligus. Kemudian alat ketiga yakni penyaring larva yang berfungsi memanen kotoran ulat.

      “Lewat program ini, peternak ulat jadi menyadari sesuatu yang mudah tapi tak pernah terpikirkan sebelumnya,” ujar Ir Henik Sukorini MP, Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM.

      Chee Jae Sian mengungkapkan, hasil penelitian ini tidak terlalu penting namun proses pembelajaran design thinking-lah yang terpenting. “Bisa dibilang proyek ini cukup sukses, karena peternak ulat menyukai sendok pupa yang kami rancang,” katanya sambil tertawa. (dar/zul/han)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image